Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 19 November 2018 | 20:18 WIB

Pembagian Masalah Tauhid dalam 3 Hal

Senin, 5 Februari 2018 | 16:00 WIB

Berita Terkait

Pembagian Masalah Tauhid dalam 3 Hal
(Foto: Ilustrasi)

UMUMNYA yang seringkali diungkapkan dalam pelajaran ilmu tauhid adalah seputar masalah rububiyah, uluhiyah dan asma' wa shifat. Pembagian masalah tauhid kepada tiga hal ini kalau mau dirunut adalah berdasarkan apa yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi dalam Kitab At-Tauhid, susunan beliau yang teramat poluler itu.

Bahkan kurikulum pelajaran aqidah di beberapa universitas di Saudi Arabia umumnya menggunakan tiga konsep tauhid ini. Selain itu memang telah disusun banyak kitab syarah atas kitab At-Tauhid ini. Sedangkan konsep tauhid mulkiyah, tidak secara tegas disebutkan di dalam kitab susunan Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab, meski bukan berarti beliau dan para pengikutnya menentang kewajiban penerapan hukum Islam di suatu negeri.

Istilah mulkiyatullah sendiri sesungguhnya diambil dari lafadz Al-Malik, salah satu nama Allah Ta'ala yang juga tercantum di dalam Al-Quran, yang berarti raja atau penguasa.Kalau kita cermati surat pertama dalam susunan Al-Quran, di dalam surat Al-Fatihah akan kita dapati pernyataan pujian kepada Allah Ta'ala sebagai rabbil-'alamin (rububiyatullah), maaliki yaumid-diin (mulkiyatullah), iyyaka na'budu (uluhiyatullah).

Demikian juga di dalam surat terakhir Al-Quran yaitu di dalam surat An-Naas, kita diminta berlindung kepada Allah dalam tiga sifatnya, rabbinnass (rububiyatullah), malikin-nass (mulkiyatullah) dan ilahinnaas (uluhiyatullah). Sehingga penyusunan sistem ilmu tauhid dengan tiga konsep rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah, pada dasarnya boleh-boleh saja dan bukan hal yang mengada-ada. Sebab kalau dikatakan mengada-ada, toh sumbernya juga dari lafadz Quran juga, bahkan disebutkan secara eksplisit.

Malah tiga konsep tauhid susunan Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab yang hanya menyebutkan rububiyyah, uluhiyah dan asma' wa shifat, tidak secara berurutan dan eksplisit disebutkan di dalam Al-Quran. Artinya, apa yang beliau susun itu sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari sebuah ijtihad, bukan wahyu yang turun.

Barangkali, kebutuhan yang beliau rasakan di masa itu memang sebatas apa yang beliau kemukakan. Dan selama sebuah manhaj itu merupakan ijtihad, tentu sangat dimungkinkan untuk disesuaikan dengan keadaan dan kondisi tertentu.

[baca lanjutan: Firman Allah yang Mendasari Tauhid Mulkiyah]

Komentar

Embed Widget
x