Find and Follow Us

Selasa, 23 Juli 2019 | 23:37 WIB

Menegur yang Salah dengan Tetap Mendoakan

Jumat, 2 Februari 2018 | 14:00 WIB
Menegur yang Salah dengan Tetap Mendoakan
(Foto: ilustrasi)

DALAM riwayat Abu Daud disebutkan bahwa Abu Bakrah ruku sebelum masuk shaf, kemudian ia berjalan menuju shaf. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, beliau berkata, "Siapa di antara kalian yang tadi ruku sebelum masuk shaf lalu ia berjalan menuju shaf?" Abu Bakrah mengatakan, "Saya." Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Semoga Allah memberikan terus semangat padamu. Namun seperti itu jangan diulangi." (HR. Abu Daud, no. 684. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Faedah Hadits:
- Tetap ada amar maruf nahi mungkar.
- Menegur yang salah dengan tetap mendoakan akan lebih membekas dan berpengaruh.
- Mendapatkan ruku mendapatkan satu rakaat, meskipun tidak mendapatkan Al-Fatihah bersama imam.

Mendapatkan ruku sebelum imam bangkit berarti telah mendapatkan satu rakaat sebagaimana hal ini menjadi pendapat jumhur ulama. Hal ini berdasarkan hadits Abu Bakrah, ketika ia mendapatkan jamaah dalam keadaan ruku, ia melakukan ruku dari sebelum masuk dalam shaf. Nabi shallallahu alaihi wa sallam diceritakan hal tersebut dan beliau berkata, "Semoga Allah memberikan terus semangat padamu. Namun seperti itu jangan diulangi." (HR. Bukhari, no. 783).

Juga dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian pergi shalat dan kami sedang sujud, maka ikutlah sujud. Namun tidak dianggap sama sekali mendapat satu rakaat. Siapa yang mendapatkan satu rakaat, maka berarti ia mendapati shalat." (HR. Abu Daud, no. 893; Ad-Daruquthni, 132; Al-Hakim, 1:216. Syaikh Al-Albani dalam Irwa Al-Ghalil, no. 496 mengatakan bahwa hadits ini shahih).

[baca lanjutan: Skala Prioritas dalam Berdakwah]

Komentar

x