Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 27 April 2018 | 15:11 WIB
 

Meminta Upah saat Mengurusi Jenazah, Bolehkah?

Oleh : - | Senin, 22 Januari 2018 | 08:00 WIB
Meminta Upah saat Mengurusi Jenazah, Bolehkah?
(Foto: ilustrasi)

MENGURUSI jenazah kaum muslimin termasuk ibadah yang Allah wajibkan bagi kaum muslimin. Baik bentuknya menggali kuburan, memandikan, mengkafani atau memakamkan. Karena itu, bagi mereka yang melaksanakannya idealnya diniatkan dalam rangka mencari pahala, bukan dalam rangka mencari upah. Bagaimana jika keluarga mayit memberi sesuatu?

Ada 2 rincian dalam masalah ini:
[1] jika keluarga mayit memberikan sesuatu tanpa disyaratkan di depan, tidak jadi masalah untuk menerimanya. Karena statusnya hadiah.
[2] jika pemberian ini karena disyaratkan di depan, berarti ini upah. Dan pendapat yang benar, boleh diambil, hanya saja mengurangi kadar pahalanya.

Dalam Kasyaful Qina dinyatakan, "Dimakruhkan untuk mengambil upah dari memandikan mayit, mengkafaninya, mengangkatnya, dan memakamkannya. Dalam kitab al-Mubdi dinyatakan, "Imam Ahmad memakruhkan bagi yang memandikan mayit atau yang menggali kuburan untuk mengambil upah dari tugasnya. Kecuali jika dia sangat membutuhkan, dan dia boleh diberi dari baitul mal. Jika tidak memungkinkan, dia diberi sesuai ukuran kerjanya." (Kasyaf al-Qina, 2/86)

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya, Bolehkah mengambil upah sebagai ganti untuk memandikan dan mengkafani jenazah?

Jawaban beliau, "Jika upah atau pemberian ini diberikan tanpa ada kesepakatan di depan, jelas ini dibolehkan dan tidak masalah. Karena pemberian ini sebagai bentuk balasan terima kasih untuk yang memandikan jenazah atau yang mengkafani atas kerja mereka. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, "Siapa yang diberi kebaikan oleh orang lain, maka berikanlah balasan terima kasih."

Lalu beliau melanjutkan, "Jika upah ini disyaratkan di depan, jelas menerima upah ini akan mengurangi pahala orang yang memandikan dan mengkafani. Karena yang memandikan dan mengkafani akan mendapatkan pahala besar; karena memandikan dan mengkafani mayit termasuk fardhu kifayah, sehingga yang melaksanakannya akan mendapatkan pahala melaksanakan fardhu kifayah."

Beliau melanjutkan, "Namun jika dia mengambil upah, maka pahalanya akan berkurang, meskipun tidak masalah baginya mengambil upah ini. Karena upah ini sebagai ganti atas kerja yang bermanfaat bagi orang lain (amal mutaadi). Dan orang yang melakukan amal mutaaddi (kerja manfaat) bagi orang lain, dia berhak mendapat upah. Sebagaimana orang yang mengajarkan al-Quran boleh mengambil upah menurut pendapat yang shahih." (Fatawa Nur ala ad-Darb, 7/36)

Keterangan Lajnah Daimah juga serupa. Ketika menjawab pertanyaan mengenai hukum mengambil upah karena memandikan jenazah, baik upah yang disyaratkan di depan atau tanpa syarat di depan. Jawaban Lajnah Daimah, "Boleh, meskipun yang lebih bagus orang itu melaksanakannya dengan suka rela, jika tidak menyusahkannya. Wa billah at-taufiiq. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa aalihii wa shahbihii wa sallam." (Fatawa Lajnah Daimah, 15/112).

Demikian, Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

Komentar

 
Embed Widget

x