Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 26 Februari 2018 | 00:27 WIB
 

Kapan Kita Harus Menangis dan Menyatakan Kesedihan

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 22 Januari 2018 | 00:05 WIB
Kapan Kita Harus Menangis dan Menyatakan Kesedihan
(Foto: ilustrasi)

JUDUL status ini lumayan panjang walau mungkin jawabannya pendek. Saya tulis ini karena tersentuh dengan dawuh Syekh Hasan Basri, seorang alim nan wara' yang kata-katanya diwariakan turun temurun sebagai kata-kata bernas hikmah.

Kutipan ini adalah dati kitab " al-Riqqah wa al-Baka' karya Ibn Abi al-Dunya. Syekh Hasan al-Basri berkata "Menangislah di saat-saat sepi, semoga Tuhanmu memberikan rahmat padamu saat melihatmu menangis, sehingga engkau termasuk orang yang beruntung".

Catat kata-kata "menangis saat sepi." Tak perlu orang lain mengetahui tangis kita karena tak semua orang bisa memahami makna air mata kita. Bahkan bisa jadi ada banyak orang yang tertawa di atas tangisan kita. Cukuplah Allah yang tahu tangisan kita, lalu bungkuslah dengan ketulusan doa agar air mata itu cepar terbang menuju langit. Lebih dari itu, yakinlah bahwa Allah mendengar pinta kita dan mengantarkan pada jalan hidup kebahagiaan yang sesungguhnya.

Jangan pernah memamerkan kesedihan dan air mata di media sosial. Menurut penelitian, mereka yang memposting kesedihan dan air mata di media sosial berpotensi mengalami kesedihan yang lebih besar. Persis dengan penelitian yang menyatakan bahwa siapapun yang mengumbar kemarahan di media sosial maka dia memiliki potensi untuk awet dalam marah dan bisa jadi semakin marah.

Sekali lagi cukup Allah Yang layak menjadi tempat kembali yang hakiki. Lalu, tutuplah doa dengan penutup doa yang dilantunkan Nabi Ibrahim dan Nabi Zakariya, "Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa." "Sesunggubnya Tuhanku sungguh Maha Mendengar doa." Semoga kita semua bisa berucap "Selamat tinggal derita, selamat datang bahagia." Salam, AIM. [*]

Komentar

 
Embed Widget

x