Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 16 Oktober 2018 | 07:18 WIB

Ragu Haid Muncul Sebelum atau Sesudah Magrib

Selasa, 16 Januari 2018 | 18:00 WIB

Berita Terkait

Ragu Haid Muncul Sebelum atau Sesudah Magrib
(Foto: Istimewa)

BAGAIMANA jika ada wanita yang masuk waktu Maghrib (buka puasa) dalam keadaan ragu apakah haidh yang ia temui saat Maghrib keluarnya sebelum buka puasa ataukah sesudahnya? Misal kebiasaan haidhnya hari tersebut, jam 4 sore ketika dicek tidak keluar darah haidh. Saat berbuka puasa (jam 6) baru ketahuan darah haidh ada. Kalau ternyata keluar sebelumnya, tentu saja puasanya jadi batal dan harus diganti di hari yang lain. Sedangkan kalau darah haidh keluar ketika waktu berbuka tiba, puasanya berarti tidak diqadha.

Bagaimana jawaban untuk masalah di atas? Perhatikan kaIdah fikih dari para ulama dan penjelasan di bawah ini. "Pegang yang Yakin, Tinggalkan Yang Ragu-Ragu"

Dalam shahih Bukhari-Muslim disebutkan hadits dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu anhu bahwasanya ia pernah mengadukan pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengenai seseorang yang biasa merasakan sesuatu dalam shalatnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda, "Janganlah berpaling hingga ia mendengar suara atau mendapati bau." (HR. Bukhari no. 177 dan Muslim no. 361).

Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai hadits di atas, "Makna hadits tersebut adalah ia boleh berpaling sampai ia menemukan adanya suara atau mencium bau, dan tidak mesti ia mendapati kedua-duanya sekaligus sebagaimana hal ini disepakati oleh para ulama kaum muslimin (ijma). Hadits ini menjadi landasan suatu kaedah dalam Islam dan menjadi kaedah fikih, yaitu sesuatu tetap seperti aslinya sampai datang suatu yang yakin yang menyelisihinya. Jika ada ragu-ragu yang baru saja datang, tidaklah masalah." (Syarh Shahih Muslim, 4: 49).

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Setiap yang masih mengandung sangkaan (keraguan) yang tidak ada patokan syari sebagai pegangan, maka tidak perlu diperhatikan." (Majmuah Al-Fatawa, 21: 56)

Ada kaedah yang bisa menjawab masalah di atas, "Setiap yang meragukan dianggap seperti tidak ada. Setiap sebab yang kita ragukan kapan munculnya, maka tidak ada hukum pada yang akibatnya. Sebab tersebut seperti sesuatu yang dipastikan tidak ada, maka tidak dikenakan hukum ketika itu. Begitu pula setiap syarat yang diragukan keberadaannya, maka dianggap seperti tidak ada sehingga tidak diterapkan hukum untuknya. Begitu pula setiap mani (penghalang) yang diragukan keberadaannya, dianggap seperti tidak ada. Hukum baru ada apabila sebab itu ada. Perlu diketahui, kaedah ini disepakati secara umum." (Anwar Al-Buruq fi Anwa Al-Furuq, 4: 94, Asy-Syamilah)

Dari kaedah di atas dapat dipahami bahwa keadaan yang yakin yang dipegang adalah masih dalam keadaan suci. Sedangkan keadaan ragu-ragu adalah dalam keadaan tidak suci. Sehingga ketika berbuka baru didapati darah haidh dan tidak diketahui keluarnya baru saja ataukah sebelum berbuka puasa, maka keadaan yang dipegang adalah keadaan suci.

Kesimpulannya, masalah di atas tetap dianggap masih dalam keadaan suci ketika masuk buka puasa. Sehingga puasanya tidak perlu diqadha, alias tetap sah. Wallahu alam bish shawwab. [Muhammad Abduh Tuasikal]

Komentar

Embed Widget
x