Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 19 Oktober 2018 | 09:15 WIB

Jin Memakan Darah Haid, Benarkah?

Rabu, 27 September 2017 | 06:00 WIB

Berita Terkait

Jin Memakan Darah Haid, Benarkah?
(Foto: ilustrasi)

BERIKUT beberapa hadis yang menyebutkan makanan bagi jin,

[1] Tulang yang hewannya disembelih atas nama Allah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah mendakwahi sekelompok jin. Lalu mereka meminta bekal bahan makanan (zad), Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Kalian memiliki bahan makanan, di setiap tulang yang hewannya disembelih dengan menyebut nama Allah, maka ketika kalian pegang akan menjadi penuh dengan daging. Sementara kotoran hewan akan menjadi makanan bagi binatang kalian (jin)." (HR. Muslim 1035). Dan untuk makanan berupa daging dari tulang yang dibacakan nama Allah ketika menyembelih hewannya, ini khusus untuk jin muslim.

[2] Makanan yang dikonsumsi manusia. Dari Hudzaifah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya setan mereka makan yang tidak diawali dengan bacaan basmalah." (HR. Muslim 5378). Dalam hadis yang lain, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Ketika seseorang masuk ke dalam rumahnya, lalu menyebut nama Allah (membaca basmalah) ketika masuk rumah dan ketika makan, maka setan akan mengatakan, tidak ada tempat menginap bagi kalian dan tidak ada makan malam." (HR. Muslim 5381).

[3] Bahan makanan yang dikonsumsi manusia. Dalil tentang ini adalah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa beliau pernah ditugasi untuk menjaga makanan zakat fitrah, kemudian selama 3 malam ada jin yang mencuri makanan itu, hingga ditangkap Abu Hurairah. Dan jin itu dibebaskan setelah dia mengajarkan ayat kursi agar dibaca sebelum tidur." (HR. Bukhari 2311).

Apakah darah haid juga termasuk makanan jin? Kami tidak menjumpai adanya keterangan maupun riwayat yang menyatakan bahwa darah haid adalah makanannya jin. Sementara masalah gaib, pada asalnya manusia tidak tahu, kecuali dia memiliki sumber informasi dari dalil atau peristiwa yang ditampakkan kepadanya. Jika tidak, maka informasinya tidak diterima. Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

Komentar

Embed Widget
x