Ibu Muslimah Ini Selamatkan 40 Kucing Saat Bom Zionis Hantam Beirut di Waktu Sahur
Oleh
Rana Setiawan
Editor

Seorang perempuan Muslimah bernama Diana Abbadi menjadi sorotan setelah memilih menyelamatkan sekitar 40 kucing peliharaannya saat harus mengungsi dari rumahnya di kawasan selatan kota Beirut, Lebanon.(Foto: Viory)
Kisah kemanusiaan yang menyentuh hati ini datang dari ibu kota Lebanon, Beirut, di tengah eskalasi konflik yang terus memanas antara Zionis Israel dan Hezbollah.
Seorang perempuan Muslimah bernama Diana Abbadi menjadi sorotan setelah memilih menyelamatkan puluhan kucing peliharaannya saat harus mengungsi dari rumahnya di kawasan selatan kota itu.
Di saat banyak orang bergegas menyelamatkan diri dan keluarga mereka dari serangan udara, Abbadi justru berjuang keras memastikan semua hewan yang ia rawat tidak tertinggal.
Total 40 ekor kucing berhasil ia evakuasi ketika ledakan mengguncang wilayah tersebut.
Peristiwa dramatis itu terjadi ketika serangan udara menghantam kawasan tempat tinggalnya pada waktu sahur di bulan Ramadan.
Saat sebagian warga masih tertidur, dentuman bom tiba-tiba memecah keheningan malam.
Abbadi menceritakan detik-detik menegangkan tersebut ketika ia dan kucing-kucingnya terbangun dalam ketakutan.
“Kami sedang tertidur ketika serangan terjadi saat sahur. Kami terbangun dengan sangat ketakutan, tubuh kami gemetar karena rasa takut. Sangat sulit mengumpulkan semua kucing itu. Di luar, orang-orang panik; rasanya seperti hari kiamat, dengan mobil-mobil dan kekacauan di mana-mana,” ujarnya dilaporkan Viory, dikutip inilah.com, Selasa (17/3/2026) .
Suasana mencekam menyelimuti lingkungan tempat tinggalnya. Orang-orang berlarian, kendaraan memadati jalanan, dan kepanikan terjadi di mana-mana.
Namun di tengah kekacauan itu, Abbadi tetap berusaha mengumpulkan satu per satu kucing yang ia rawat, meskipun harus melakukannya seorang diri.
“Ada peringatan evakuasi untuk wilayah Dahieh, Haret Hreik, dan Lailaki. Saya keluar dan entah bagaimana berhasil membawa semuanya seorang diri, alhamdulillah, meskipun saya sendirian tanpa ada yang membantu,” ungkapnya.
Berpacu dengan Waktu
Situasi darurat membuatnya tidak sempat mempersiapkan perlengkapan untuk membawa hewan-hewan tersebut secara aman. Biasanya, kucing-kucing itu ditempatkan dalam kandang khusus. Namun saat serangan terjadi, waktu menjadi sangat terbatas.
Dengan tangan gemetar dan tubuh diliputi ketakutan, ia memasukkan kucing-kucing itu langsung ke dalam mobil.
“Saya sendirian, tubuh saya gemetar tak terkendali, tanpa siapa pun yang membantu. Tidak mudah mengumpulkan mereka sambil gemetar lalu memasukkan mereka ke mobil. Tidak ada waktu untuk kandang atau kotak pembawa, jadi saya langsung menaruh mereka di dalam kendaraan. Saya hanya sempat membawa dua kantong pasir dan makanan, tetapi alhamdulillah saya berhasil menyelamatkan mereka,” ucapnya.
Abbadi mengaku tidak memikirkan barang-barang pribadi saat meninggalkan rumahnya. Ia hanya membawa apa yang ia kenakan dan beberapa kebutuhan dasar bagi kucing-kucingnya.
“Saya tidak peduli membawa apa pun bersama saya,” ujarnya.
“Saya melarikan diri dengan pakaian yang saya kenakan, hanya satu baju di dalam mobil. Satu-satunya yang saya pikirkan adalah keluar dari sana bersama jiwa-jiwa ini, karena saya tidak sanggup membayangkan kehilangan mereka jika bangunan itu terkena serangan,” tegasnya.
Pada akhirnya, semua kucing yang ia rawat berhasil dibawa keluar dari wilayah berbahaya tersebut.
“Ada sekitar 40 kucing, dan alhamdulillah saya berhasil mengevakuasi semuanya,” imbuhnya.
Trauma Hewan di Tengah Perang
Tidak hanya manusia yang merasakan dampak psikologis perang. Hewan peliharaan juga mengalami ketakutan ekstrem akibat suara ledakan.
Abbadi menjelaskan bahwa kucing-kucing tersebut menunjukkan tanda-tanda stres setelah serangan udara terjadi.
“Ya, kucing sangat ketakutan dengan suara bom. Mereka menjadi cemas, bisa berhenti makan atau minum, bahkan terkadang menjadi takut kepada saya karena mengira saya yang menyebabkan suara-suara itu,” katanya.
Kini, Abbadi dan puluhan kucingnya tinggal di tempat penampungan sementara setelah meninggalkan Beirut selatan yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak serangan.
Rekaman video yang beredar pada Minggu memperlihatkan Abbadi mengelus dan merawat kucing-kucingnya di tempat perlindungan baru tersebut.
Gelombang Pengungsian di Lebanon
Konflik yang terus meningkat antara Zionis Israel dan Hezbollah telah memicu gelombang pengungsian besar-besaran di Lebanon.
Menurut pernyataan Unit Manajemen Bencana Lebanon pada 13 Maret, jumlah warga yang mengungsi sejak awal perang antara Zionis Israel dan Hezbollah telah mencapai 830.441 orang.
Perpindahan massal ini dipicu oleh perintah evakuasi Zionis Israel yang mencakup wilayah luas di pinggiran selatan Beirut serta wilayah selatan Lebanon.
Eskalasi terbaru terjadi setelah Hezbollah menyatakan keterlibatan langsung dalam konflik sebagai bentuk balasan atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Kelompok tersebut mengklaim telah melakukan sejumlah operasi militer dan menyatakan kembali melanjutkan serangan sebagai respons atas agresi Israel terhadap Lebanon.
Pelajaran Empati di Tengah Konflik
Kisah Diana Abbadi menjadi potret kecil tentang empati dan kepedulian yang tetap hidup bahkan di tengah tragedi perang. Di saat banyak orang kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman, ia memilih tidak meninggalkan makhluk hidup yang ia rawat.
Di tengah bulan Ramadan yang identik dengan nilai kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama makhluk, tindakan Abbadi menjadi pengingat bahwa kemanusiaan, bahkan terhadap hewan, tetap bisa bersinar di tengah kegelapan konflik.
Bagi Abbadi, menyelamatkan 40 kucing itu bukan sekadar tindakan spontan. Itu adalah panggilan hati.
Karena bagi dirinya, mereka bukan sekadar hewan peliharaan, tetapi jiwa-jiwa yang juga berhak untuk selamat dari perang.






