Arti Ana Uhibbuka Fillah, Kapan Mengucapkan, dan Cara Menjawabnya
Oleh
Farahdilla Puspa
Editor
Dewa Panggalih

Pasangan suami istri muslim. (Foto: Magnific)
Ada banyak ungkapan dalam bahasa Arab yang sering diucapkan oleh umat Muslim, termasuk di Indonesia.
Salah satunya adalah masyaallah tabarakallah, yang digunakan saat melihat sesuatu yang indah atau menakjubkan.
Selain itu, ada juga kalimat yang cukup sering didengar, yakni ana uhibbuka fillah.
Lantas, apa arti ana uhibbuka fillah dan bagaimana cara menjawab ungkapan tersebut?
Arti Ana Uhibbuka Fillah
أَنَا أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ
Ana uhibbuka fillah
Artinya: “Aku mencintaimu karena Allah.”
Kalimat ini digunakan untuk mengungkapkan rasa sayang kepada seseorang dengan niat yang ikhlas, semata-mata karena Allah SWT.
Dalam Islam, setiap perbuatan dianjurkan untuk dilakukan karena Allah SWT, termasuk dalam mencintai sesama makhluk ciptaan-Nya.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Tiga perkara yang dengannya seseorang akan merasakan manisnya iman: (1) mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala sesuatu, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kapan Mengucapkan Ana Uhibbuka Fillah?
Kalimat ana uhibbuka fillah dapat diucapkan saat mengungkapkan rasa cinta kepada orang terkasih.
Namun, yang dimaksud dengan orang terkasih tidak terbatas pada suami atau istri saja.
Ungkapan ini juga bisa disampaikan kepada keluarga dan saudara, baik laki-laki maupun perempuan.
Pada intinya, ana uhibbuka fillah merupakan bentuk ungkapan kasih sayang yang tulus, yang didasari oleh keikhlasan karena Allah SWT.
Ingat, Bukan Berarti Ana Uhibbuka Fillah Bisa Diucapkan ke Semua Orang
Syaikh Khalid al-Muslih, pernah menjawab pertanyaan terkait hukum seorang wanita yang mengucapkan “uhibbuka fillah” kepada laki-laki yang bukan mahramnya.
Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa seorang perempuan tidak diperbolehkan menjalin komunikasi dengan laki-laki non-mahram, baik secara langsung melalui ucapan seperti “ana uhibbuka fillah”, maupun secara tidak langsung melalui tulisan atau pesan.
Larangan ini didasarkan pada prinsip bahwa wanita beriman tidak dibenarkan berbicara dengan nada yang lembut atau penuh perasaan kepada laki-laki yang bukan mahram.
Sikap seperti itu dikhawatirkan dapat menimbulkan ketertarikan yang tidak semestinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu melembutkan suara dalam berbicara sehingga menimbulkan keinginan pada orang yang memiliki penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)
Ayat ini menjadi landasan bahwa dalam berkomunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahram, seorang wanita hendaknya menjaga cara berbicara: tetap tegas, seperlunya, dan tidak berlebihan dalam mengekspresikan perasaan.
Hal ini bertujuan untuk menutup pintu munculnya godaan atau hal-hal yang tidak diinginkan.
Penjelasan ini juga disebutkan dalam kitab Ahkamul Qur’an karya Ibnul ‘Arabi (jilid 3, halaman 568).
Cara Menjawab Ucapan Ana Uhibbuka Fillah
Ketika seseorang mengucapkan ana uhibbuka fillah, kita bisa menjawabnya dengan kalimat berikut:
أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِي لَهُ
Ahabbakal Ladzii ahbabtanii lahu
Artinya: “Semoga Allah mencintaimu karena engkau telah mencintaiku karena-Nya.”
Kalimat ini bukan sekadar balasan, tetapi juga doa agar orang yang mencintai kita juga dicintai oleh Allah SWT.
Ungkapan ini juga diajarkan Nabi Muhammad SAW dalam hadis berikut:
"Mujahid berkata, ‘Ada salah seorang sahabat nabi shallallahu alaihi wa sallam bertemu denganku lalu ia memegang pundakku dari belakang dan berkata, ‘Sungguh saya mencintaimu’. Dia lalu berkata, ‘Ahabbakal ladzii ahbabtanii lahu’ (Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu).” (HR Bukhari)






