Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 27 April 2018 | 15:31 WIB
 

Malu Terkait Hak Allah dan Hak Sesama

Oleh : - | Kamis, 11 Januari 2018 | 18:00 WIB
Malu Terkait Hak Allah dan Hak Sesama
(Foto: Ilustrasi)

PERTAMA, malu yang berkaitan dengan hak Allah. Seseorang harus memiliki rasa malu ini, dia harus mengetahui bahwa Allah mengetahui dan melihat setiap perbuatan yang dia lakukan, baik larangan yang diterjangnya maupun perintah yang dilakukannya.

Kedua, malu yang berkaitan dengan hak manusia. Seseorang juga harus memiliki rasa malu ini, agar ketika berinteraksi dengan sesama, dia tidak berperilaku yang tidak pantas (menyelisihi al-muruah) dan berakhlak jelek. Syaikh Ibnu Utsaimin memberi contoh.

Dalam majelis ilmu, jika seseorang berada di shaf pertama, lalu dia menjulurkan kakinya, maka dia dinilai tidak memiliki rasa malu karena dia tidak menjaga al-muruah (kewibawaan). Namun, jika dia duduk di antara teman-temannya, kemudian dia menjulurkan kaki, maka ini tidaklah meniadakan al-muruah. Namun, lebih baik lagi jika dia meminta izin pada temannya, "Bolehkah saya menjulurkan kaki?". (Syarh Al-Arbain, 210)

Malu yang merupakan tabiat/ watak seseorang. Sebagian manusia telah diberi kelebihan oleh Allah Taala rasa malu. Ketika dia masih kecil saja sudah memiliki sifat demikian. Dia malu berbicara kecuali jika ada urusan mendesak atau tidak mau melakukan sesuatu kecuali jika terpaksa, karena dia adalah pemalu.

Malu hasil diusahakan. Malu yang kedua ini adalah malu karena hasil dilatih. Orang seperti ini biasa cekatan dalam berbicara, berbuat. Kemudian dia berteman dengan orang-orang yang memiliki sifat malu dan dia tertular sifat ini dari mereka. Rasa malu yang pertama di atas lebih utama dari yang kedua ini. (Syarh Al-Arbain, 210)

[baca lanjutan: Sifat Malu yang Terpuji dan Tercela]

Komentar

 
Embed Widget

x