Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 10 Desember 2018 | 06:32 WIB

Bin dengan Nama Ayah Angkat, Sahkah Akad Nikah?

Sabtu, 6 Januari 2018 | 15:00 WIB

Berita Terkait

Bin dengan Nama Ayah Angkat, Sahkah Akad Nikah?
(Foto: Ilustrasi)

YANG jadi masalah dalam akad nikah sebenarnya bukan urusan embel-embel 'bin'-nya benar atau tidak. Sebab kata 'bin' itu sendiri boleh saja tidak disebutkan. Yang penting dalam akad itu jelas siapa yang jadi pengantin laki-laki dan siapa yang jadi pengantin perempuan. Seandainya ada selip kata atau keliru dalam pengucapan 'bin' atau 'binti', asalkan bisa dipastikan sosok pasangan itu benar, tentu tidak menjadi masalah dengan sah atau tidaknya akad itu.

Sesungguhnya yang menjadi masalah dalam ijab kabul dan sah atau tidaknya sebuah akad adalah pada sosok wali atas pengantin wanita. Sebab bila yang menjadi wali bukan orang yang dibenarkan secara syariah, maka akadnya menjadi tidak sah juga. Ada sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang menegaskan bahwa menikah tanpa izin dari wali adalah perbuatan mungkar dan pelakunya bisa dianggap berzina.

Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Siapapun wanita yang menikah tanpa izin walinya maka nikahnya itu batil, nikahnya itu batil dan nikahnya itu batil. Jika (si laki-laki itu) menggaulinya maka harus membayar mahar buat kehormatan yang telah dihalalkannya. Dan bila mereka bertengkar, maka Sulthan adalah wali bagi mereka yang tidak punya wali. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah.)

Dari Abi Buraidah bin Abi Musa dari Ayahnya berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda,"Tidak ada nikah kecuali dengan wali". (HR Ahmad dan Empat). Di dalam hadits yang lain juga disebutkan : Dari Abi Hurairah radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihiw asallam bersabda, "Janganlah seorang wanita menikahkan dirinya sendiri. Wanita pezina itu adalah wanita yang menikahkan dirinya sendiri. (HR. Ad-Daruquthny).

Dari Al-Hasan dari Imran marfu'an,"Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua saksi".(HR Ahmad). Sedangkan Abdullah bin Abbas berfatwa: "Semua pernikahan yang tidak menghadirkan empat pihak maka termasuk zina: suami, wali dan dua saksi yang adil."

Dalam kasus yang Anda tanyakan ini, sayang sekali Anda tidak menyebutkan jenis kelamin anak yang diangkat oleh A, apakah dia laki-laki atau perempuan. Tetapi kalau melihat sekilas Anda menyebut 'bin', kemungkinan dia adalah laki-laki. Untuk itu dalam syariat Islam, pada dasarnya pengantin laki-laki tidak butuh wali dalam akad nikah. Sehingga dia bisa menikah tanpa adanya wali, dan kalau pun dalam penyebutkan 'bin'-nya tidak benar, tidak akan berpengaruh pada sah tidaknya akad nikah itu.

Yang jadi masalah dalam akad nikah adalah pengantin perempuan. Bila yang diangkat jadi anak angkat oleh A adalah seorang wanita, lalu ketika menikah yang jadi wali adalah ayah angkatnya, maka disitu baru terjadi masalah. Sebab A bukan ayah kandung, sehingga tidak sah kalau menjadi wali dalam akad nikah itu. Yang boleh jadi wali adalah ayah kandungnya, yaitu dalam hal ini adalah B. Sebagai ayah kandung, sebenarnya B bisa saja tidak menikahkan puterinya secara langsung. Dalam hal ini, syariah Islam membolehkan B yang merupakan ayah kandungnya meminta orang lain untuk menggantikan posisinya menjadi wali. Sebutlah misalnya B meminta A untuk menjadi wakil atas dirinya, sehingga dalam akad nikah itu yang mengucapkan ijab bukan B tetapi A.

Syaratnya B memang secara sadar dan ikhlas meminta A untuk menjadi wali bagi puterinya dalam akad nikah. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc., MA]

Komentar

Embed Widget
x