Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 17 Januari 2018 | 04:07 WIB

Emas Kawin Boleh Pinjam, Sahkah Perkawinan?

Oleh : - | Rabu, 27 Desember 2017 | 16:30 WIB
Emas Kawin Boleh Pinjam, Sahkah Perkawinan?
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

SESEORANG yang mengaku baru sebulan menikah bertanya, ia memakai uang pinjaman (calon) istrinya untuk mas kawin pernikahan. Sahkah pernikahannya?

Tentang hal itu, ustadz menjawab, bahwa suami wajib memberikan mahar (mas kawin) kepada wanita/istri karena itu menjadi hak wanita/istri. Mahar bermakna pemberian, bukan sebagai "harga beli" terhadap wanita yang akan dinikahi.

Dari Sahal bin Sa`ad bahwa nabi SAW didatangi seorang wanita yang berkata,"Ya Rasulullah kuserahkan diriku untukmu", Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata," Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya."

Rasulullah berkata, "Punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar? Dia berkata, "Tidak, kecuali hanya sarungku ini" Nabi menjawab,"Bila kau berikan sarungmu itu maka kau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu." Dia berkata, "Aku tidak mendapatkan sesuatupun." Rasulullah berkata, "Carilah walau cincin dari besi." Dia mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Nabi berkata lagi," Apakah kamu menghafal qur`an?" Dia menjawab,"Ya surat ini dan itu" sambil menyebutkan surat yang dihafalnya. Berkatalah Nabi, "Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan Quranmu." (HR Bukhari Muslim).

Dari Amir bin Robi`ah bahwa seorang wanita dari bani Fazarah menikah dengan mas kawin sepasang sendal. Lalu Rasulullah SAW bertanya,"Relakah kau dinikahi jiwa dan hartamu dengan sepasang sendal ini?" Ia menjawab," Rela." Maka Rasulullahpun membolehkannya. (HR Ahmad 3/445, Tirmidzi 113, Ibnu Madjah 1888).

Dari Anas RA bahwa Aba Thalhah (Abu Thalhah Al Ansyari) meminang Ummu Sulaim lalu Ummu Sulaim berkata, "Demi Allah, lelaki sepertimu tidak mungkin ditolak lamarannya, sayangnya kamu kafir sedangkan saya muslimah. Tidak halal bagiku untuk menikah denganmu. Tapi kalau kamu masuk Islam, ke-Islamanmu bisa menjadi mahar untukku. Aku tidak akan menuntut lainnya." Maka jadilah ke-Islaman Abu Thalhah sebagai mahar dalam pernikahannya itu. (HR Nasa`i 6/ 114).

Dari beberapa dalil di atas nampak jelas bahwa pria harus berusaha memberikan mahar kepada wanita. Mahar tidak harus berharga mahal. Apabila memang suami tidak mempunyai banyak harta, maka ia bisa memberikan mahar yang harganya tidak mahal. Bahkan kalau tidak punya harta apapun, ia bisa memberikan hafalan bacaan Al Quran.

Di sisi lain, wanita hendaknya tidak menuntut mahar yang tinggi sehingga memberatkan pihak pria. Rasulullah bersabda : Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Nikah yang paling besar barokahnya itu adalah yang murah maharnya." (HR Ahmad 6/145)

Anjuran untuk memperkecil bilangan mahar ini merupakan kemudahan sehingga para pemuda bisa segera menikah tanpa harus tertunda karena masalah harta.

Setelah mahar diberikan kepada istri, mahar adalah hak istri sepenuhnya. Akan tetapi, suami dan istri boleh memanfaatkan mahar tersebut bersama-sama. Allah berfirman : "Berikanlah kepada para wanita (yang kalian nikahi) mahar (mas kawin)-nya sebagai pemberian yang disertai dengan kerelaan. Kemudian, jika mereka memberikan sebagiannya kepada kalian dengan senang hati, kalian boleh memakannya (sebagai makanan) yang sedap dan bermanfaat." (QS an-Nis [4]: 4)

Terkait pernikahan Anda, tampaknya Anda merupakan salah satu korban sistem kapitalisme sekuler yang membuat banyak pemuda yang sudah berumur tidak mempunyai penghasilan yang layak, bahkan sampai kesulitan membayar mahar. Sistem yang diterapkan sekarang telah menjadikan jutaan rakyat Indonesia menjadi miskin sehingga banyak pemuda terlambat menikah karena tak berpenghasilan.

Di sisi lain, sistem kapitalisme ini membuat banyak wanita muslimah menjadi terlambat mendapatkan jodoh karena tidak kunjung datang pemuda yang akan menikahinya. Akibat berikutnya, maraklah pacaran yang akhirnya menjerumuskan pada perilaku seks bebas (perzinaan) yang diharamkan Allah.

Memang tidak lazim calon suami meminjam sejumlah uang kepada calon istrinya. Tetapi, walaupun tidak lazim, bukan berarti pernikahan tidak sah. Pria yang meminjam uang itu terikat dengan akad tersendiri, lain dengan akad nikah. Pernikahan adalah suatu akad yang lain. Jadi harus dipisahkan.

Sebagaimana urusan utang-piutang yang lain, pria yang meminjam uang itu tentu wajib membayar utangnya. Selama belum melunasi hutang, si pria masih menanggung kewajiban tersebut.

Kalau di kemudian hari si istri merelakan uang tersebut (tidak meminta dikembalikan), itu boleh-boleh saja. Namun sebagai suami, Anda jangan langsung melupakan begitu saja.

Saran kami untuk siapa saja yang akan menikah, sebaiknya calon suami jangan meminjam uang kepada wanita yang kebetulan calon istrinya. Bukankah mahar itu adalah pemberian kepada istri? [ ]

Komentar

 
Embed Widget

x