Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 12:00 WIB

Memotivasi Orang Lain dengan Hadis Palsu?

Senin, 18 Desember 2017 | 18:00 WIB

Berita Terkait

Memotivasi Orang Lain dengan Hadis Palsu?
(Foto: Ilustrasi)

HADIS tersebut memang cukup masyhur di tengah kalangan umat Islam. Biasanya digunakan para penceramah untuk memotivasi orang, dengan cara mengaitkan hikmah puasa dengan kesehatan.

Ceramah tarawih, kultum shubuh, pengajian dan berbagai forum majelis taklim selama sebulan penuh biasanya selalu dihiasi dengan hadis yang nash sebagai berikut :

"Berpuasalah, kalian akan sehat."

Biasanya yang terpikir di benak para penceramah adalah ingin memberikan semangat, arahan dan motivasi kepada jamaah tentang betapa pentingnya puasa, dan betapa puasa itu punya banyak manfaat dari sisi kesehatan.

emberian motivasi ini memang penting, akan tetapi ketika mengutip hadis yang mana kita menisbahkan suatu perkataan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka kita butuh rujukan yang kuat dan valid. Tidak boleh asal kutip begitu saja, agar jangan sampai kita malah kena dosa berdusta tentang Rasulullah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim di Ath Thibbun Nabawi sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafidz Al-Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), oleh Ath Thabrani di Al Ausath (2/225), oleh Ibnu Adi dalam Al Kamil Fid Dhuafa (3/227).

Dari sisi kekuatan periwayatannya, ternyata memang ada beberapa ahli hadis yang menilai hadis ini lemah, bahkan ada yang menilainya sebagai hadis palsu.

1. Lemah (Dhaif)

Hadis ini dinilai dhaif (lemah) oleh Al Hafidz Al Iraqi, sebagaimana yang bisa kita baca dalam kitab Takhrijul Ihya (3/108). Nashiruddin Al-Albani juga menyebutkan bahwa hadis ini lemah, sebagaimana tertera dalam kita Silsilah Adh Dhaifah (253).

2. Palsu

Bahkan Ash-Shaghani agak berlebihan dalam menilainya. Beliau mengatakan hadis ini sudah masuk kategori maudhu' alias palsu, sebagaimana keterangan di dalam Maudhuat Ash Shaghani.

3. Benarkah Esensinya?

Lepas dari apakah hadis itu lemah atau palsu, namun bagaimana kebenaran esensi hadis ini? Jawabnya adalah bahwa orang yang berpuasa itu akan mendapatkan hikmah berupa badannya sehat, tentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Sebab secara ilmu kesehatan, ketika seseorang meninggalkan gaya makan dan minum yang berlebihan, tentu semua akan berdampak positif bagi kesehatan.

Sebab umumnya penyakit datang dari makanan yang masuk ke dalam mulut. Seperti ungkapan banyak orang : "mulutmu harimaumu". Tetapi kali ini bukan karena salah ucap, melainkan salah dalam gaya makan. Maka kalau orang berpuasa bisa bermanfaat buat kesehatan, memang ada benarnya, khususnya untuk kasus-kasus tertentu.

Tetapi ketika kita menyimpulkan bahwa puasa adalah terapi untuk semua jenis penyakit, dimana cukup dengan berpuasa, maka kita akan sehat wal afiyat, tentu perlu didiskusikan dan ditelaah lebih dalam. Ada beberapa argumen yang melemahkan teori ini, antara lain:

Pertama, kita menemukan dalil Alquran yang menegaskan bahwa orang yang sedang menderita sakit justru dibolehkan tidak berpuasa. Kalau berpuasa itu pasti membuat badan menjadi sehat, seharusnya tidak perlu ada keringanan bagi umat Islam untuk tidak berpuasa ketika sakit. Sebab harusnya justru dengan berpuasa itu penyakitnya akan hilang dan kesembuhan akan datang. Tetapi kenyataannya, justru orang yang sedang sakit malah dibolehkan tidak berpuasa.

Kedua, dalam kenyataannya, begitu banyak orang yang sehat, kemudian ketika memasuki bulan Ramadan, atau seusai bulan Ramadan, malah jatuh sakit dan bukannya malah sembuh. Fakta-fakta seperti ini tentu sudah bisa dijadikan hujjah, bahwa esensi hadis itu kurang sesuai dengan dalil-dalil qathi yang lain.

Jadi kesimpulannya, boleh saja kita memotivasi orang untuk berpuasa dengan alasan bahwa diantara hikmah puasa bisa membuat badan kita sehat. Tetapi harus dengan catatan, bahwa kita jangan menggunakan hadis di atas, kecuali dengan menjelaskan bahwa hadis itu sendiri lemah derajatnya, bahkan ada yang bilang hadis itu palsu.

Selain itu, yang namanya hikmah itu bisa saja terjadi pada diri seseorang secara khusus, namun tidak ada jaminan hikmah itu berlaku pada setiap orang. Wallahu a'lam bishshawab. [Ahmad Sarwat, Lc., MA]

Komentar

Embed Widget
x