Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 16 Juli 2018 | 14:06 WIB
 

Hukum Belajar Berfantasi Lewat Video Porno

Oleh : - | Selasa, 12 Desember 2017 | 11:00 WIB
Hukum Belajar Berfantasi Lewat Video Porno
(Foto: Istimewa)

ADA yang beranggapan bahwa melihat video porno dibolehkan bagi seseorang yang sudah berkeluarga/beristri, karena ada tempat pelampiasan yang halal yaitu pasangannya. Anggapan ini tidak dibenarkan berdasarkan beberapa alasan:

1. Berfantasi dengan melihat gambar aurat orang lain hukumnya haram. Terlebih membayangkan aurat orang lain saat menggauli istri.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: " maka zinanya kedua mata adalah melihat, zinanya kedua telinga adalah mendengarkan, zinanya lisan adalah membicarakan, zinanya tangan adalah menyentuh, zinanya kaki adalah melangkah, sementara hati bernafsu dan berkhayal, dan kemaluan yang membenarkan atau mendustakan." (THR. Muslim)[9]

Pengistilahan Rasulullah saw dengan zina untuk perbuatan-perbuatan yang bukan zina sebenarnya[10] menandakan keharaman sekalipun dosanya tidak sebesar dosa zina sebenarnya. Termasuk di dalamnya adalah khayalan/fantasi porno yang dihasilkan dari melihat, mendengar, membicarakan, dan menyentuh hal-hal yang berbau porno atau wasilah lain yang mengantarkan kepadanya. Juga menurut para ulama, berfantasi dengan aurat orang lain saat menggauli istri adalah haram[11].

Adapun riwayat oleh Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah ra: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:"Apabila salah seorang di antara kalian terpesona oleh seorang wanita, dan merasuk di hatinya, maka hendaknya ia mendatangi istrinya dan menggaulinya, karena yang demikian itu bisa menghilangkan apa yang terbesit dalam hatinya (tadi)"[12], tidak dimaksudkan agar si laki-laki menggauli sang istri sambil membayangkan wanita yang dijumpainya, karena dipungkasan hadits tersebut dikatakan"karena yang demikian itu bisa menghilangkan apa yang terbesit dalam hatinya", atau diriwayat At-Tirmidzi dikatakan "karena yang ada pada dirinya (istrinya) seperti apa yang ada pada dirinya (wanita yang dijumpainya)."[13] menandakan persetubuhan dengan istri berfungsi untuk mengalihkan perhatian/pikiran si laki-laki dari wanita yang dijumpainya agar tidak larut dalam fantasi yang diharamkan, tentu itu tidak dilakukan dengan membayangkan wanita tersebut saat berhubungan badan dengan sang istri.

2. Haramnya menceritakan adegan ranjang suami-istri kepada orang lain (baik berupa cerita, tulisan, rekaman suara, atau rekaman video),

Dari Abu Said Al-Khudri, Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah seseorang yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian suami menyebarkan rahasia istrinya." (THR. Muslim)[14]

Maka haram pula mencari tahu tentangnya. Dengan sengaja melihat video porno, berarti sengaja mencari tahu adegan ranjang orang lain dengan pasangannya. Terlebih jika yang dilihat adalah adegan porno berupa perzinahan (pemerannya bukan suami-istri), maka mengambil manfaat darinya tergolong menyetujui atau ridha terhadap perilaku tersebut.

Kesimpulannya, melihat video porno adalah haram karena diduga kuat akan mengantarkan kepada keharaman, yaitu berupa mengetahui aib orang lain, khayalan mesum, mengetahui persetubuhan orang lain, dimana pasangan halal suami-istri saja tidak boleh menceritakannya. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:

"Sesungguhnya wanita itu adalah diantara anak panah Iblis, maka barang siapa melihat seorang perempuan yang elok mempesona kemudian dia menundukkan pandangannya berharap ridha Allah swt, niscaya Allah swt membalasnya dengan kenikmatan dalam beribadah." (THR. Ibn An-Najjar)[15] [ ]

Sumber:

[1] Ibn Katsir, Tafsr Al-Qun Al-Azhm, vol VI, hlm 41

[2] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, vol V, hlm 4. Syuaib Al-Arnauth: sanadnya Hasan

[3] Abu Dawud, Sunan Abu Dwud, vol XI, hlm 145. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubr, vol II, hlm 226. Hadits Mursal. Imam Taqyuddin An-Nabhani berkata: Hadits Mursal adalah Hujjah, bisa digunakan untuk berargumentasi. (Lihat Asy-Syakhshiyyah Al-Islmiyyah, vol I, Bab Hadits Mursal)

[4] Lihat An-Nabhani, An-Nizhm Al-Ijtima, bab An-Nazhr Il Al-Marah (melihat perempuan).

[5] Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Asybh wa An-Nazhir, vol I, hlm 60. Juga An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islmiyyah, vol III, hlm 18. Bab L hukm qabl wurd asy-syar (tidak ada hukum sebelum ada ketetapan syara)

[6] Lihat An-Nabhani, Nizhm Al-Islm, hlm 17.

[7] Muhammad Ibn Hibban, Shahh Ibn Hibbn, vol XIII, hlm 73. Menurut Alauddin Al-Farisi, isnadnya sahih, rijalnya tsiqat.

[8] Imam Asy-Syaukani mengatakan: "apa-apa yang secara pasti mengantarkan kepada keharaman, maka dia haram bagi kami dan bagi mereka, yaitu bagi pengikut Imam Syafii dan pengikut Imam Malik rahimahumallah." Lihat Irsyd Al-Fuhl Il tahqq Al-Haqq Min Ilm Al-Ushl, vol II, hlm 196. Imam An-Nabhani menyepakati dengan sedikit perbedaan, beliau berkata: "Hal-hal yang mengantarkan kepada keharaman adalah haram jika secara dugaan kuat akan mengantarkan kepada keharaman. Jika hanya dikhawatirkan maka tidak sampai haram." Lihat Nizhm Al-Islm, hlm 92. Dalam perkara syariat,ghalabatuzhzhann (dugaan kuat) bisa diberlakukan, tidak harus qathi (pasti) sebagaimana dalam perkara akidah. Semoga yang dimaksud Imam Asy-Syaukani adalah ghalabatuzhzhann, karena berupa prediksi terhadap hal yang belum terjadi.

[9]Shahh Muslim, hadits nomor 4801.

[10] Zina sebenarnya atau zina dalam arti istilah adalah: menggauli wanita melalui kemaluannya tanpa disertai kepemilikan (ikatan pernikahan/hak) dan ketidakjelasan. (Rawwas Qalahjie, Mujam Lughah Al-Fuqah, hlm 280. Keyword: az-zin)

[11] Imam Al-Iraqi berkata: "Jika seorang laki-laki menyetubuhi istrinya, sementara dia membayangkan persetubuhan dengan wanita lain yang diharamkan baginya dan beranggapan seolah-olah dia bersetubuh dengan wanita tersebut, maka yang demikian itu adalah haram baginya." (Al-Iraqi, Tharh At-Tatsrb, vol I, hlm 390)

[12] Lihat Shahh Muslim, hadits nomor 2492.

[13] Lihat Sunan At-Tirmidzi, vol IV, hlm 384. Nomor hadits 1078.

[14] Shahh Muslim, hadits nomor 2597.

[15] Alauddin Al-Burhan Fawri, Kanzu Al-Umml f Sunan Al-Aqwl wa Al-Afl, vol V, hlm 328.

Komentar

Embed Widget

x