Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 15:53 WIB

Seputar Wudhu setelah Mandi Jinabat

Oleh : - | Sabtu, 9 Desember 2017 | 10:00 WIB
Seputar Wudhu setelah Mandi Jinabat
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

MANDI besar atau mandi junub adalah aktivitas membersihkan badan dari hadats besar. Biasanya mandi ini dilakukan setelah berhubungan seks antara suami-istri ataupun setelah mimpi basah, yakni mimpi yang ketika bangun didapati keluar mani.

Berbeda halnya dengan wudhu. Wudhu adalah sarana untuk membersihkan hadats kecil, seperti kentut, buang air besar atau kecil, menyentuh alat kelamin, dan lain sebagainya.

Namun bolehkan kita langsung melaksanakan salat tanpa berwudhu setelah mandi jinabat?

Siti Aisyah radliyallhu anh meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah shallallhu alaihi wasallam pernah melakukan salat tanpa berwudhu setelah mandi junub.

"Dari Aisyah radliyallhu anh berkata: Rasulullah sering mandi kemudian melakukan salat dua rakaat dan salat subuh. Dan aku tidak melihatnya memperbarui wudhunya setelah mandi."

Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai dan Tirmidzi. Redaksi "kna" yang disusul dengan fiil mudlri sebagaimana yang digunakan Siti Aisyah dalam riwayat di atas menunjukkan arti kontinuitas atau sering Nabi melakukan hal tersebut.

Bahkan Aisyah menambahi bahwa dia tidak pernah melihat Nabi berwudhu setelah mandi junub. Sehingga bisa disimpulkan bahwa selama dalam pengamatan Aisyah, Nabi selalu melakukan salat tanpa berwudu setelah mandi junub.

Dalam redaksi hadits lain riwayat Ibnu Majah juga disebutkan dengan kata yang jazim:

"Nabi tidak pernah berwudhu setelah mandi jinabat."

Ibnu Umar pernah bercerita bahwa Nabi pernah ditanya terkait wudhu setelah mandi junub.

"Ibnu Umar berkata: ketika Rasulullah Saw. ditanya terkait wudhu setelah mandi, (beliau menjawab) adakah wudhu yang lebih umum daripada mandi." (HR Ibnu Abi Syaibah)

Dalam hadits riwayat Ibnu Umar tersebut secara langsung menjelaskan bahwa kedudukan mandi lebih umum daripada wudhu. Artinya, ketika seorang telah melakukan mandi junub, maka itu sekaligus mencakup wudhu.

Hal ini juga diperkuat dengan pendapat beberapa ulama seperti Abu Bakar bin Al-Araby yang dikutip oleh al-Mubarakfury dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi-nya.

Artinya: "Abu Bakar bin al-Araby berkata bahwa tidak ada ulama yang berbeda pendapat terkait permasalah wudhu yang telah termasuk dalam mandi. Dan sesungguhnya niat mensucikan jinabat itu menyempurnakan niat mensucikan hadats sekaligus menggugurkan mensucikan hadats (wudhu). Karena hal-hal yang mencegah jinabat itu lebih banyak daripada hal-hal yang mencegah hadats."

Imam Nawawi dalam al-Majmu Syarh Muhadzab mengatakan bahwa boleh tidak berwudhu setelah mandi jinabat karena sudah termasuk dalam mandi tersebut. Walaupun Imam Nawawi menyebutkan tiga pendapat lain, namun beliau mengatakan bahwa pendapat ini yang paling sahih. Wallahu Alam. (M Alvin Nur Choironi/nuol)

Komentar

 
Embed Widget

x