Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 19:19 WIB

2 Macam Pemaksaan, Beda Cara Menghadapinya

Oleh : - | Jumat, 8 Desember 2017 | 09:00 WIB
2 Macam Pemaksaan, Beda Cara Menghadapinya
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

DALAM Al-Mawsuah Al-Fiqhiyyah (22: 182) disebutkan bahwa pemaksaan itu ada dua macam:

Pemaksaan pertama disebut ikrahan tamman, yaitu pemaksaan sempurna, artinya benar-benar menghadapi bahaya besar. Seperti dipaksa dengan dibunuh, dipotong, dipukul yang dapat membahayakan jiwa atau anggota badan, baik dengan sedikit atau banyak pukulan. Pemaksaan kedua disebut ikrahan naqishan, yaitu pemaksaan yang tidak sempurna, artinya tidak benar-benar mengancam jiwa. Seperti dipenjara, dirantai, atau pukulan yang tidak sampai membahayakan jiwa atau anggota badan.

Para ulama menyatakan bahwa yang disebut pemaksaan yang boleh melakukan perbuatan kekufuran atau mengucapkan kata kufur adalah pemaksaan pertama, yaitu pemaksaan sempurna (ikrahan tamman). Namun syarat disebut ikrahan tamman adalah:
- Ancaman yang diberikan benar-benar berdampak bahaya pada jiwa atau anggota badan.
- Yang memaksa benar-benar mampu diwujudkan ancamannya.
- Yang dipaksa benar-benar tidak mampu untuk menolak ancaman pada dirinya, baik dengan melarikan diri atau meminta pertolongan pada yang lain.
- Yang dipaksa punya sangkaan kuat bahwa ancaman tersebut benar-benar bisa diwujudkan oleh yang memaksa.

Bolehkah bagi yang diancam memilih untuk bersabar dan terus terkena bahaya dan terus disakiti, andai juga ia terbunuh ketika itu? Iya, boleh memilih seperti itu. Bilal bin Rabbah radhiyallahu anhu dan lainnya pernah memilih seperti itu.

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, seseorang boleh memilih untuk mati ketika diancam untuk mengatakan kalimat kufur. Seperti yang dipilih oleh Bilal. Ia enggan mengucapkan kalimat kufur. Sampai-sampai orang kafir meletakkan batu yang besar di dadanya dalam keadaan panas. Mereka terus memaksa Bilal untuk berbuat syirik pada Allah, namun Bilal enggan menuruti keinginan mereka. Bilal tetap mengatakan, "Ahad, Ahad (artinya: Esa, Esa)." Bilal mengatakan, "Demi Allah, seandainya aku tahu suatu kalimat yang akan membuat kalian lebih marah dari kalimat itu, tentu aku akan mengucapkannya." Semoga Allah meridhai Bilal." (Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 4: 715)

Semoga bermanfaat. [Referensi: Jami Al-Bayan an Tawil Ay Al-Quran (Tafsir Ath-Thabari)/Muhammad Abduh Tuasikal]

Komentar

 
Embed Widget

x