Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 19:23 WIB

Bebas, Gauli Istri Dari Mana Saja Asal...

Oleh : - | Rabu, 6 Desember 2017 | 17:00 WIB
Bebas, Gauli Istri Dari Mana Saja Asal...
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

SATU hal yang harus diingat, boleh memberi rangsangan, mencium kemaluan (kebersihan terjaga). "Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223)

"Dari Aisyah RA, ia menceritakan, "Aku pernah mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana"(HR. Bukhari dan Muslim).

4. Menggunakan selimut sebagai penutup saat berjima
Dari Atabah bin Abdi As-Sulami bahwa apabila kalian mendatangi istrinya (berjima), maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang seperti dua ekor himar. (HR Ibnu Majah)

5. Jima boleh dari mana saja asal tidak lewat jalan belakang (sodomi)
Jima dengan isteri boleh dilakukan darimana arah mana saja dari depan, samping, belakang (asal tidak sodomi) atau posisi berdiri, telungkup, duduk, berbaring dll.
Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223)

Dari Abi Hurairah Radhiallahuanhu. bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wasallam bersabda, "Dilaknat orang yang menyetubuhi wanita di duburnya". (HR Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai)

6. Boleh menggunakan kondom atau dikeluarkan di luar kemaluan isteri (Azl)
Dari Jabir berkata: "Kami melakukan azl di masa Rasulullah Shallallahualaihi wasallam dan Rasul mendengarnya tetapi tidak melarangnya" (HR muslim).

C. Adab setelah jima

1. Tidak langsung meninggalkan suami/isteri setelah jima berdiam diri
setelah melakukan hubungan intim hendaknya tidak langsung meninggalkan pasangan, hendaknya tetap memberikan perhatian seperti mencium kening, memeluk atau tidur berbaring di samping pasangan sambil bercanda gurau sampai kondisinya kembali normal dan akan memulai aktifitas selanjutnya.

2. Mencuci kemaluan dan berwudhu jika ingin mengulang Jima
Dari Abu Said, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"Jika salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya, lalu ia ingin mengulangi senggamanya, maka hendaklah ia berwudhu." (HR. Muslim no. 308)

3. Mandi besar / Mandi janabah setelah jima
"Dari Ubai bin Ka`ab bahwasanya ia berkata : "Wahai Rasul Allh, apabila ia seorang laki-laki menyetubuhi isterinya, tetapi tidak mengeluarkan mani, apakah yang diwajibkan olehnya? Beliau bersabda, "Hendaknya dia mencuci bagian-bagian yang berhubungan dengan kemaluan perempuan, berwudhu dan lalu shalat". Abu `Abd Allh berkata, "mandi adalah lebih berhati-hati dan merupakan peraturan hukum yang terakhir. Namun mengetahui tidak wajibnya mandi kamu uraikan juga untuk menerangkan adanya perselisihan pendapat antara orang `alim." (HR. Bukhriy dalam Kitab Shahihnya/Kitab Mandi, hadits ke-290. []

Komentar

 
Embed Widget

x