Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 17 Januari 2018 | 04:20 WIB

Maulid Nabi: Merayakan Hari Lahir seperti Nasrani

Oleh : - | Jumat, 1 Desember 2017 | 08:00 WIB
Maulid Nabi: Merayakan Hari Lahir seperti Nasrani
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INI adalah beberapa kerancuan dari orang yang membela acara maulid Nabi dan jawaban dari kerancuan tersebut. Semoga bermanfaat.

[Ketiga] Niatannya Supaya Lebih Mengenal Sosok Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mungkin ada yang berseloroh, kalau melakukannya dengan niatan ibadah maka bidah, tapi kalau sekedar memperingati agar lebih mengenal sosok Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka mubah, bahkan bisa jadi sunnah atau wajib, karena setiap muslim wajib mengenal Nabinya.

Kita katakan kepadanya bahwa itu tidak benar! Sungguh ironis, seorang yang mengaku cinta kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, mengenalinya kok hanya setahun sekali?! Mengenal sosok beliau tidaklah dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bidah. Lebih dari itu, sangat mustahil atau kecil kemungkinannya bila tidak disertai niat merayakan hari kelahiran beliau, yang ini pun sesungguhnya sudah masuk ke dalam lingkup tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang dibenci oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri. Mereka (orang Nashrani) merayakan kelahiran Nabi Isa melalui natalan, sedangkan mereka merayakan kelahiran Nabinya shallallahu alaihi wa sallam melalui natalan. Padahal Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka" (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)

Sudikah kita mengenal dan mengenang Nabi, namun beliau sendiri tidak suka dengan cara yang kita lakukan?! Dan siapa bilang harus mengenal sosok Nabi shallallahu alaihi wa sallam cuma melalui acara maulid yang hanya diadakan sekali setahun? Bukankah masih ada cara lain yang sesuai tuntutan dan tidak tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir.

[baca lanjutan: Maulid Nabi: Benarkah Rasul Peringati Hari Lahirnya?]

Komentar

 
Embed Widget

x