Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 17 Januari 2018 | 04:11 WIB

Maulid Nabi: Bidah yang Baik atau Tercela?

Oleh : - | Jumat, 1 Desember 2017 | 07:00 WIB
Maulid Nabi: Bidah yang Baik atau Tercela?
(Foto: Inilahcom/Ilustrasi)
facebook twitter

INI adalah beberapa kerancuan dari orang yang membela acara maulid Nabi dan jawaban dari kerancuan tersebut. Semoga bermanfaat.

[Kedua] Maulid Nabi adalah Bidah Hasanah (Bidah yang baik). Perkataan ini muncul karena mereka melihat para ulama yang membagi bidah menjadi bidah hasanah (baik) dan bidah sayyiah atau dholalah (sesat/jelek). Jadi menurut mereka tidak semua bidah itu sesat.

Ingatlah saudaraku, bidah dalam hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak dikenal sama sekali adanya bidah hasanah. Bahkan yang dikatakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan diyakini oleh sahabat, setiap bidah adalah sesat. Perhatikanlah sabda Nabi shallahu alaihi wa sallam berikut: "Amma badu. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bidah) dan setiap bidah adalah sesat." (HR. Muslim no. 867)

Ibnu Masud radhiyallahu anhu berkata, "Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam), janganlah membuat bidah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bidah adalah sesat." (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mujam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma Zawaid bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata, "Setiap bidah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik." (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

Lihatlah perkataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat. Kita akan melihat bahwa mereka mengatakan semua bidah itu sesat, tanpa ada pengecualian. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa Umar bin Al Khaththab pernah menyatakan bahwa shalat tarawih yang dia hidupkan adalah "sebaik-baik bidah"? Dari perkataan beliau ini menurut mereka, ada bidah hasanah (yang baik). Sanggahan: Ingatlah para sahabat tidak mungkin melakukan bidah. Yang dimaksud dengan bidah dalam perkataan Umar adalah bidah secara bahasa Arab yang berarti sesuatu yang baru.

Jika ada yang masih ngotot bahwa tidak semua bidah sesat, ada di sana bidah yang baik (hasanah), maka cukup kami katakan: Kalau Umar menghidupkan shalat tarawih dan beliau katakan sebagai bidah, hal ini ada dalil dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Karena dulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga melaksanakan shalat tarawih di awal-awal Ramadhan. Namun karena takut amalan tersebut dianggap wajib, maka beliau tidak menunaikannya lagi. Jadi, intinya Umar memiliki dasar dari perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Sekarang, apa maulid Nabi memiliki dasar dari beliau shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana shalat tarawih yang dihidupkan oleh Umar? Jawabannya tidak sama sekali. Beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya, begitu pula para sahabat, tabiin, dan para imam madzhab tidak ada yang merayakannya. Sehingga maulid tidak bisa kita sebut bidah hasanah. Yang lebih tepat maulid adalah bidah madzmumah (tercela) sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syuqairiy dan Al Fakihaniy yang telah kami sebutkan dalam tulisan sebelumnya.

[baca lanjutan: Maulid Nabi: Merayakan Hari Lahir seperti Nasrani]

Komentar

 
Embed Widget

x