Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 16 Juli 2018 | 14:00 WIB
 

Tegas! Inilah Pendapat Ulama Menyikapi Maulid Nabi

Oleh : - | Jumat, 1 Desember 2017 | 05:00 WIB
Tegas! Inilah Pendapat Ulama Menyikapi Maulid Nabi
(Foto: Ilustrasi)

SEBAGAI kelanjutan dari pembahasan Maulid Nabi, berikut kami sampaikan beberapa pendapat ulama Ahlus Sunnah dalam menyikapi perayaan tersebut. Semoga bermanfaat.

[Pertama] Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqi mengatakan, "Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyariatkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabiul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jumat dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror-; ini semua adalah bidah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya." (Majmu Fatawa, 25/298)

[Kedua] Muhammad bin Abdus Salam Khodr Asy Syuqairiy membawakan pasal "Di bulan Rabiul Awwal dan Bidah Maulid". Dalam pasal tersebut, beliau rahimahullah mengatakan, "Bulan Rabiul Awwal ini tidaklah dikhusukan dengan shalat, dzikr, ibadah, nafkah atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang di dalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ied sebagaimana digariskan oleh syariat. Bulan ini memang adalah hari kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran beliau sekaligus juga kematiannya? Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bidah yang mungkar. Tidak ada dalam syariat maupun dalam akal yang membenarkan hal ini.

Jika dalam maulid terdapat kebaikan,lalu mengapa perayaan ini dilalaikan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat lainnya, juga tabiin dan yang mengikuti mereka? Tidak disangsikan lagi, perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang yang serakah pada makanan, orang yang gemar menyiakan waktu dengan permainan sia-sia dan pengagung bidah. " Lalu beliau melanjutkan dengan perkataan yang menghujam, "Lantas faedah apa yang bisa diperoleh, pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan?" (As Sunan wal Mubtadaat Al Mutaalliqoh Bil Adzkari wash Sholawat, 138-139)

[Ketiga] Seorang ulama Malikiyah, Syaikh Tajuddin Umar bin Ali yang lebih terkenal dengan Al Fakihaniy- mengatakan bahwa maulid adalah bidah madzmumah (bidah yang tercela). Beliau memiliki kitab tersendiri yang beliau namakan "Al Mawrid fil Kalam ala Amalil Mawlid (Pernyataan mengenai amalan Maulid)".

Beliau rahimahullah mengatakan, "Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bidah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah). Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabiin dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bidah dalam agama berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram." (Al Hawiy Lilfatawa Lis Suyuthi, 1/183)

Semoga bermanfaat. [Muhammad Abduh Tuasikal]

Komentar

Embed Widget

x