Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 19:22 WIB

Menyikapi Cacian, Celaan dan Hinaan

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Minggu, 26 November 2017 | 02:30 WIB
Menyikapi Cacian, Celaan dan Hinaan
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

TIDAK mesti karena kita itu hina sehingga ada orang menghina kita. Tak selalu harus ada kesalahan untuk kemudian kita dicela. Tidak pula karena kita jelek lalu kemudian kita dicaci. Tanpa apapun sangat mungkin kita menjadi target cacian, celaan dan cacian.

Nabi Muhammad, manusia termulia, yang dari sisi apapun adalah sempurna tanpa cacat, juga pernah dicaci, dicela dan dihina. Memang faktanya adalah banyak sekali orang yang punya mulut yang tak bisa nutup. Mulutnya selalu saja terbuka membicarakan apa yang yang diketahui. Ketika tak tahu apa-apa, tetap saja mulutnya menganga terbuka mengarang cerita yang tak berdasar fakta.

Bagaimana Rasulullah menghadapinya? Dengan sabar dan senyuman. Respons yang luar biasa. Teringatlah saya pada kata kakek bijak: "Teruslah tersenyum sampai orang-orang itu bingung menafsirkan perasaanmu." Kesabaran adalah pilihan terbaik. Tak usah melawan orang bodoh agar pangkat kita tak turun sejajar dengan si bodoh tadi. Inilah yang dikatakan orang Jawa kuno: "Sing waras ngalah."

Suatu waktu Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kepala negara yang super baik itu, dihina habis-habisan oleh seorang rakyatnya. Bagaimanakah respon yang khalifah? Beliau berkata dengan tenang: "Andaikan tak ada akhirat, niscaya kujawab hinaanmu." Beliau kemudian diam karena ingin kemuliaan di akhirat walau di dunia dihina. Tapi, dengan kebaikannya ini justru beliau bahagia dan dikenang pula di dunia.

Bisalah kita seperti beliau? Salam, AIM. [*]

Komentar

 
Embed Widget

x