Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 19:23 WIB

Tegar di Tengah Badai

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 27 November 2017 | 00:09 WIB
Tegar di Tengah Badai
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

BANYAK ukuran untuk menilai seseorang itu tegar di tengah badai. Banyak yang menilainya dari sisi kemampuan seseorang tersenyum di dalam derita, bersabar di tengah ujian dan tabah dalam deraan musibah. Jelas ini tidaklah salah, namun sepertinya kita perlu memperluas pada tanda-tanda yang lain.

Semalam adalah pengajian umum maulid nabi di pondok kami di Sumenep Madura. Sebagaimana biasanya, ribuan orang datang dan duduk di bawah langit yang berbalut mendung. Hati mereka sungguh penuh takdzim pada Sang Rasul. Ada cinta yang luar biasa pada Rasulullah walau mereka tak pernah bertemu dan menatap wajah beliau. Cinta yang unik, bukan? Untuk selain beliau, mencintai tanpa kenal bertemu adalah kemustahilan.

Saat ceramah agama berjalan setengah perjalanan, sekitar 40 menit, gerimis mulai turun menyapa. Perlahan bergerak menderas dan membasahi bumi. Sangatlah lazim dan bisa dimaklumi jika jamaah pindah ke tempat yang beratap atau bahkan juga dimaklumi jika pengajian menjadi bubar. Pengajian seperti ini adalah jenis pengajian MISBAR, gerimis bubar.

Faktanya, dari ribuan orang itu, tak satupun berdiri dan pergi pindah tempat. Mereka tetap di tempat, tersenyum menikmati gerimis sambil mengaji. Saya sampaikan: "Kita basah bersama untuk tunjukkan dan buktikan cinta kepada Rasulullah." Mereka tegar. Nenek dan kakek sepuhpun tetap terkekeh-kekeh mendengarkan kisah. Menarik bukan? Sampai selesai doa mereka terus bertahan.

Ini adalah bagian dari tegar di tengah badai. Jangan diremehkan. Faktanya banyak yang tak mau hadir ke pengajian karena hujan, bukan? Hahaaa, jangan tersinggung. Renungkan saja. "Orang yang bahagia itu bukan mereka yang bisa menari di bawah terik matahari, tapi mereka yang tetap bisa menari di bawah guyuran hujan." Salam, AIM. [*]

Komentar

 
Embed Widget

x