Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 17:14 WIB

Kekhawatiran Rasulullah: Saling Berbangga Harta

Oleh : - | Sabtu, 18 November 2017 | 09:00 WIB
Kekhawatiran Rasulullah: Saling Berbangga Harta
(Foto: Ilustrasi)

WALAU kita sudah mengetahui bahwa yang membedakan kita dan lainnya, bukanlah harta namun ketakwaan. Tetap mencari harta jadi suatu lomba bagi kita-kita saat ini. Bahkan kita akan korbankan segalanya, akan korbankan waktu pula, untuk memenuhi tabungan harta yang kita miliki.

Itulah yang Nabi kita sangat khawatirkan. Beliau shallallahu alaihi wa sallam, bukanlah khawatir kita menjadi miskin. Yang beliau khawatirkan adalah kita terus berlomba untuk berbangga dengan harta. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Yang aku khawatirkan pada kalian bukanlah kemiskinan, namun yang kukhawatirkan adalah saling berbangganya kalian (dengan harta)." (HR. Ahmad 2: 308. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Sifat manusia yang takatsur yang saling berlomba untuk bermegah-megahan dalam dunia disebutkan pula dalam ayat, "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (1) sampai kamu masuk ke dalam kubur. (2) (QS. At Takatsur: 1-2)

Di zaman ini, berbagai jalan untuk cepat kaya pun ditempuh. Pertama, ada yang mencari dengan jalan berutang (memperbanyak kredit). Ada yang tujuannya bukan ingin memenuhi kebutuhan pokoknya, namun sekedar menambah motor, menambah mobil, menambah handphone. Padahal kredit di zaman ini tak lepas dari penggandaan utang, alias dikenai riba. Kenyataan yang terjadi, utang yang kecil lama kelamaan bisa beranak menjadi sepuluh kali lipatnya.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR. Ibnu Majah, no. 2414. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya." (HR. Tirmidzi, no. 1078; Ibnu Majah, no. 2413. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al Iroqiy mengatakan, "Urusannya masih menggantung, artinya tidak bisa kita katakan ia selamat ataukah sengsara sampai dilihat uhtangnya tersebut lunas ataukah tidak." (Tuhfah Al-Ahwadzi, 4: 184)

[baca lanjutan: Cepat Kaya dengan Jalan Korupsi]

Komentar

Embed Widget

x