Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 November 2017 | 06:13 WIB

2 Orang yang Diharamkan Berfatwa (bagian 2)

Oleh : - | Minggu, 5 November 2017 | 12:00 WIB
2 Orang yang Diharamkan Berfatwa (bagian 2)
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

MESKI memberi jawaban syariyah atas pertanyaan orang-orang itu hukumnya wajib dan mendapatkan pahala yang besar, sementara menyembunyikan ilmu itu hukumnya dosa, bukan berarti setiap orang boleh memberikan jawaban seenaknya. Maka pada dasarnya, tidak semua orang wajib menjawab pertanyaan, tidak setiap muslim berhak menjadi mufti. Orang yang tidak punya kapasitas ilmu yang memadai, justru diharamkan berfatwa. Sebab fatwanya bukan menjadi petunjuk agama, sebaliknya malah bisa jadi menyesatkan manusia.

Dalam kenyataannya, pemberian fatwa yang diharamkan ada beberapa jenis:

2. Kurangnya Ilmu

Fatwa yang menyesatkan boleh jadi lahir bukan karena ingin merusak agama. Malah kadang justru datang dari motivasi yang baik, yaitu ingin berdakwah untuk agama dan membela tegaknya hukum Allah. Namun karena yang memberi fatwa ini bukan orang yang ahli di bidangnya, maka fatwa yang keluar dari dirinya justru menyesatkan orang lain. Dan penyebab utamanya bukan sama sekali tidak punya ilmu, tetapi ilmu yang ada kurang jumlahnya.

Pemandangan seperti inilah yang justru saat ini seringkali kita saksikan, baik secara langsung atau pun lewat media televisi. Hampir setiap hari kita menyaksikan orang-orang dengan kapasitas seadanya, menjawab banyak pertanyaan yang fatal, karena terkait dengan hukum halal dan haram, tapi dijawab dengan sekenanya, tanpa merujuk kepada dalil-dalil syariyah yang baku, dan tanpa merujuk kepada pendapat para fuqaha yang muktamad.

Maka sudah ada tegas peringatan untuk tidak sembarangan memberi fatwa, kalau bukan memang orang yang ahli di bidangnya. Sebab pertanggung-jawabannya cukup besar, yaitu api neraka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengancam dalam sebuah hadits bahwa:

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari tengah manusia, tapi Allah mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama. Hingga ketika tidak tersisa satu pun dari ulama, orang-orang menjadikan orang-orang bodoh untuk menjadi pemimpin. Ketika orang-orang bodoh itu ditanya tentang masalah agama mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menceritakan bahwa umat Islam yang telah kehilangan para ulama, lantas mereka menjadikan para tokoh yang bodoh dan tidak punya ilmu sebagai tempat untuk merujuk dan bertanya masalah agama. Alih-alih mendapat petunjuk, yang terjadi justru mereka semakin jauh dari kebenaran, bahkan sesat dan malah menyesatkan banyak orang. Di akhirat, mereka yang berfatwa seenaknya saja dengan berani tanpa dasar ilmu syariah yang kokoh, diancam dengan api neraka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewanti-wanti dalam sabdanya: "Orang yang paling berani di antara kalian dalam berfatwa adalah orang yang paling berani masuk neraka." (HR. Ad-Darimi)

Diriwayatkan dari Sufyan dan Sahnun, bahwa mereka pernah berkata: "Orang yang paling banyak berfatwa pertanda mereka adalah orang-orang yang sedikit ilmunya." Al-Atsram pernah berkata: Saya seringkali mendengar dari Al-Imam Ahmad bahwa beliau berkata,"Saya tidak tahu". Demikian sekilas tentang syarat untuk menjadi mufti atau pemberi fatwa. Bukan syarat yang mudah dan harus ditempuh lewat jalur pendidikan yang khusus tentunya. Wallahu a'lam bishshawab. [Ahmad Sarwat, Lc., MA]

Komentar

 
Embed Widget

x