Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 21 Januari 2018 | 13:45 WIB
 

Operasi Selaput Dara Agar Dikira Perawan

Oleh : - | Rabu, 18 Oktober 2017 | 09:00 WIB
Operasi Selaput Dara Agar Dikira Perawan
(Foto: Ilustrasi)

SEANDAINYA operasi selaput dara dihalalkan secara umum, bisakah anda bayangkan para wanita akan merasa bebas berzina? Sebab apa lagi yang mereka takutkan? Toh selaput dara yang merupakan bukti keperawanan ternayta bisa dioperasi dan diperbaiki, setelah itu bisa jadi perawan lagi. Ibarat mobil ketabrak penyok, bisa masuk bengkel poles body dan keluar seperti baru kembali. Meski tetap saja tidak akan sempurna seperti keluar dari pabrik.

Kalau operasi selaput dara dengan tujuan untuk menipu calon suami itu dihalalkan, maka akan ada begitu banyak wanita yang berzina. Setelah itu dia hanya minta biaya kepada pasangan zinanya itu untuk mengoperasi selaput daranya. Dan dengan demikian, kita akan membuka sebuah pintu dari pintu-pintu setan. Pintu itu adalah pintu zina. Alangkah berdosanya orang yang memfatwakan kehalalan sesuatu yang kemudian malah membuka pintu-pitu maksiat lainnya.

Memang benar bahwa 'aib seseorang tidak boleh dibeberkan, namun kalau 'aib itu nantinya akan mengganggu keharmonisan hubungan suami isteri, maka harus dijelaskan. Terkadang memang ada yang protes, kenapa hanya wanita yang punya selaput dara dan kalau sampai berzina lalu koyak, kenapa selalu dipertanyakan? Bukankah kemungkinan laki-laki berzina juga ada? Jawabannya memang benar bahwa laki-laki pun suka berzina. Akan tetapi pemicu paling besar memang wanita. S.ebuah perzinaan tidak akan terjadi begitu saja. Perzinaan terjadi akibat pergaulan bebas. Di mana para wanita bergaul tanpa menutup aurat dan bercampur dengan laki-laki.

Hubungan teman sekantor, atau hubungan sesama mahasiswa, siswa bahkan hubungan atasan dan bawahan yang tidak ada pembatasannya, semua memang pintu-pintu yang terbuka menuju ke arah perzinaan. Dalam semua perzinaan, pihak yang paling dirugikan adalah pihak wanita. Sebab orang-orang masih bicara tentang kesucian dan keperawanan, tapi tidak bicara keperjakaan. Dan memang ketika selaput dara rusak akibat zina, yang akan menanggung malu seumur hidup adalah wanita. Sebab dia akan berada pada keadaaan serba salah, apakah harus berterus terang kepada calon suaminya bahwa dirinya sudah tidak perawan lagi, ataukah ditutupinya rahasia itu seumur hidupnya?

Maka saran yang penting untuk para wanita adalah hindari zina sejak dari hulunya. Orang arab bilang, al-waiqayatu khairun minal 'ilaj, pernjagaan itu lebih baik dari pada perbaikan.Jangan biarkan kedekatan dengan laki-laki sampai harus menghalalkan hal-hal yang pada hakikatnya sudah haram. Bukankah keluar rumah tanpa penutup rapat aurat merupakan tindakan yang haram? Bukankah campur baur dengan lawan jenis tanpa batas juga diharamkan? Bukankah sekedar berduaan dengan bukan mahram juga haram? Lalu kalau tahu haram, kenapa masih dijalankan?

Dan ketika sudah koyak selaput dara sebagai kehormatan satu-satunya, penyesalan tiada akhir lah yang akan terjadi. Maka jangan lagi para ulama dipaksa-paksa bikin fatwa yang menghalalkan operasi selaput dara. Bukankah tujuan operasi itu justru untuk menipu calon suami? Sehingga suami menganggapnya perawan, tetapi ternyata hanya 'barang second' yang dipoles body. Sudah berzina, apakah masih mau tambah dosa lagi dengan berbohong? Laa haula wala quwaata illa billah. Wallahu a'lam bishshawab. [Ahmad Sarwat, Lc]

Komentar

 
Embed Widget

x