Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 15:54 WIB

Implementasi Mahar Hafalan Alquran

Oleh : - | Rabu, 18 Oktober 2017 | 07:00 WIB
Implementasi Mahar Hafalan Alquran
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

PADA hakikatnya yang disebut mahar atau maskawin itu adalah kewajiban suami untuk memberi harta atau nafkah kepada istri. Tidaklah mahar itu diterjemahkan menjadi mas kawin, kecuali karena sebenarnya bentuk asli dari mahar itu memang emas. Emas disini bukan sembarang emas, tetapi emas yang dimaksud adalah uang. Di masa lalu, orang-orang tidak mengenal uang dalam bentuk kertas yang dicetak di pabrik. Wujud fisik uang di masa lalu tidak lain adalah emas. Maka generasi sebelum kita sudah benar ketika menterjemahkan mahar dengan sebutan mas kawin.

Ada pun mas kawin dalam bentuk hafalan ayat Al-Quran, sebenarnya tidak ada rujukannya. Sebab pekerjaan menghafal ayat Al-Quran bukan termasuk harta. Kalau pun di masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ada shahabat yang memberi mahar dalam bentuk bacaan Al-Quran, maksudnya bukan dia menghafalkan ayat Al-Quran. Justru dia sudah hafal ayat Al-Quran. Dan maksudnya juga bukan lantas istrinya itu dibacakan ayat-ayat Al-Quran. Sebab istrinya tidak dalam keadaan kesurupan, atau sakit keras hampir meninggal dunia, sehingga harus dibacakan ayat-ayat Al-Quran.

Yang benar adalah shahabat itu adalah seorang yang punya ilmu tentang Al-Quran, termasuk menghafal ayat-ayatnya. Dan dia mampu mengajarkan ilmu-ilmu Al-Quran itu kepada orang, bahkan bisa menghasilkan harta. Silahkan perhatikan teks hadits berikut ini:

Dari Sahal bin Sa'ad bahwa nabi shallallahu 'alaihi wasallam didatangi seorang wanita yang berkata, "Ya Rasulullah kuserahkan diriku untukmu", Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata," Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya". Rasulullah berkata," Punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar? dia berkata, "Tidak kecuali hanya sarungku ini" Nabi menjawab,"bila kau berikan sarungmu itu maka kau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu". Dia berkata," aku tidak mendapatkan sesuatupun". Rasulullah berkata, " Carilah walau cincin dari besi". Dia mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Nabi berkata lagi," Apakah kamu menghafal qur'an?". Dia menjawab,"Ya surat ini dan itu" sambil menyebutkan surat yang dihafalnya. Berkatalah Nabi,"Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan qur'anmu" (HR Bukhari Muslim).

Dalam beberapa riwayat yang shahih disebutkan bahwa beliau bersabda, "Ajarilah dia Al-Quran". Maksudnya, maharnya adalah mengajarkan calon istrinya itu ilmu-ilmu Al-Quran. Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa jumlah ayat yang diajarkannya itu adalah 20 ayat dan bukan keseluruhan ayat Al-Quran. Jadi jelas sekali bahwa yang dimaksud dengan mahar dalam bentuk membacakan ayat Al-Quran tidak lain adalah mengajarkan. Ya, mengajarkan ayat-ayat Al-Quran adalah sebuah kerja yang 'bisa diuangkan'. Sebab para dosen dan guru besar ilmu tafsir dan ilmu qiraat memang berhak untuk dibayar atas jasa mengajarkan ayat-ayat Al-Quran.

Sekedar sebuah perbandingan, ketika ada orang-orang kafir yang dijadikan tawanan dalam perang Badar, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menawarkan tebusan mereka dalam bentuk jasa mengajarkan ilmu baca dan tulis. Bila berhasil mengajarkan baca dan tulis kepada 10 orang dari kaum muslimin, maka jasa mengajarnya itu setara dengan harga uang tebusan. Maka mereka dengan sendiri otomatis telah menebus dirinya dan akan menghirup udara kebebasan.

Begitu juga dengan mengajar Al-Quran, juga merupakan jasa mengajar yang bisa dinilai secara nominal. Jadi ketika ada shahabat yang tidak punya uang untuk dijadikan pembayar mahar, tetapi dia punya ilmu yang terkait dengan pengajaran Al-Quran, maka jasa mengajar itulah yang dijadikan mahar.

Tentu dalam hal ini harus ada dua syarat mendasar : Pertama, si suami memang seorang guru yang punya ilmu mendalam tentang Al-Quran. Kalau si suami bukan orang yang layak untuk mengajar, karena sebenarnya dia pun orang awam, maka mahar dalam bentuk mengajar menjadi tidak ada artinya. Masak sih orang bodoh disuruh mengajar? Apa yang mau diajarkan?. Kedua, si istri adalah orang yang tidak punya ilmu tersebut dan punya kebutuhan untuk mempelajari ilmu-ilmu Al-Quran. Kalau istrinya lebih pintar dan lebih mendalam ilmunya dibandingkan suaminya dalam masalah ilmu-ilmu Al-Quran, maka bukan pada tempatnya kalau dia belajar dari suaminya yang justru lebih bodoh dan lebih rendah ilmunya.

Komentar

 
Embed Widget

x