Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 16:18 WIB

Salat Mata Terpejam Kebiasaan Yahudi

Oleh : - | Jumat, 13 Oktober 2017 | 12:00 WIB
Salat Mata Terpejam Kebiasaan Yahudi
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

PARA ulama memakruhkan memejamkan mata saat salat, diantaranya Hanafi, Maliki, Hambali, sebagian Syafi'i. Terdapat sebuah hadis dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Apabila kalian melakukan salat maka janganlah memejamkan kedua mata kalian." Hadis ini diriwayatkan oleh at-Thabrani (w. 360 H) dalam Mujam as-Shagir no. 24. dari jalur Musab bin Said, dari Musa bin Ayun, dari Laits bin Abi Salim.

Hadis ini dinilai dhaif oleh para ulama pakar hadis, karena dua alasan,

1. Laits bin Abi Salim dinilai dhaif karena mukhtalat (hafalannya kacau), dan dia perawi mudallis (suka menutupi)

2. Musab bin Said, dinilai sangat lemah oleh para ulama. Ibnu Adi mengatakan tentang perawi ini, "Beliau membawakan hadis-hadis munkar atas nama perawi terpercaya dan menyalahi ucapan mereka. Status dhaif hadisnya sangat jelas."

Mengenai alasan dihukumi makruh, ada beberapa keterangan dari para ulama, diantaranya:

a. Memejamkan mata ketika shalat, bukan termasuk sunah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ibnul Qoyim (w. 751 H) mengatakan,

"Bukan termasuk sunah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, memejamkan mata ketika shalat." (Zadul Maad, 1/283)

b. Memejamkan mata ketika salat, termasuk kebiasaan salat orang Yahudi. Dalam ar-Raudhul Murbi kitab fikih mazhab Hambali pada penjelasan hal-hal yang makruh ketika salat, dinyatakan,

"Makruh memejamkan mata ketika salat, karena ini termasuk perbuatan orang Yahudi." (ar-Raudhul Murbi, 1/95).

c. Karena memejamkan mata bisa menyebabkan orang tertidur, sebagaimana keterangan dalam Manar as-Sabil (1/66).

Untuk itu, sebagian ulama membolehkan memejamkan mata ketika ada kebutuhan. Misalnya, dengan memejamkan mata, dia menjadi tidak terganggu dengan pemandangan di sekitarnya. Ibnul Qoyim mengatakan,

Kesimpulan yang benar, jika membuka mata (ketika salat) tidak mengganggu kekhusyuan, maka ini yang lebih afdal. Tetapi jika membuka mata bisa mengganggu kekhusyuan, karena di arah kiblat ada gambar ornamen hiasan, atau pemandangan lainnya yang mengganggu konsentrasi hatinya, maka dalam kondisi ini tidak makruh memejamkan mata.

Dan pendapat yang menyatakan dianjurkan memejamkan mata karena banyak gangguan sekitar, ini lebih mendekati prinsip ajaran syariat dari pada pendapat yang memakruhkannya. (Zadul Maad, 1/283). Wallahu a'lam. [Ustazah Nurdiana/iman-manis]

Komentar

 
Embed Widget

x