Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Oktober 2017 | 16:12 WIB

Ibu Mertua Kedudukannya sebagai Ibu (Kandung)

Oleh : - | Selasa, 10 Oktober 2017 | 11:00 WIB
Ibu Mertua Kedudukannya sebagai Ibu (Kandung)
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

"Jika ibu meninggal, tidak ada lagi pertengkaran. Hidupku akan tenang."

Urainab berpikir singkat. Ia tidak lagi bisa berpikir jernih. Saat itu ia benar-benar ingin mengakhiri perselisihan dengan sang ibu mertua yang telah mengganggu kehidupannya.

Wanita itu baru saja menikah. Bersama Yazid, sang suami, ia pun tinggal bersama dengan ibu mertua. Perselisihan dengan wanita paruh baya tersebut pun dimulai sejak saat itu. Entah kenapa setiap hal yang Urainab lakukan selalu salah di mata ibunda Yazid. Keduanya berselisih dalam semua perkara.

Tentu saja hal ini membuat Yazid bersedih. Namun, tidak banyak yang bisa ia lakukan. Jika ia membela sang ibu, bagaimana dengan Urainab. Sebaliknya jika ia membela Urainab, sang ibunda pasti akan sakit hati. Satu-satunya cara yang mampu ia lakukan adalah berdoa kepada Allah, memohon agar permasalahan yang terjadi antara istri dan ibunya segera selesai. Yazid berdoa agar ketiganya dapat hidup bersama dengan bahagia.

Hari demi hari pertengkaran Urainab dan sang ibu mertua tak kunjung reda. Hingga Yazid berpikir untuk membawa pindah istrinya dari rumah sang ibunda. Namun Yazid juga bimbang mengingat ia tak punya tempat untuk ditinggali, terlebih ia tidak tega jika harus meninggalkan ibunya yang mulai menginjak usia senja.

Permasalahan dengan sang mertua semakin memburuk, sehingga pada saat itulah Urainab tidak berpikir panjang dalam mencari jalan keluar. Sesungguhnya ada kesamaan antara ia dan ibu mertuanya. Keduanya sama-sama tidak ada yang mau mengakui kesalahan. Ia dan ibu mertuanya selalu merasa paling benar satu sama lain.

Meracuni ibu mertuanya adalah cara terbaik untuk mengakhiri semua ini. Urainab ingin hidup bahagia dan tenang bersama suaminya.

Untuk menjalankan rencananya, Urainab berkunjung ke salah satu ahli obat di sebuah kota, bernama Sufyan bin Umar. Dia bercerita soal pertengkarannya dengan sang ibu mertua, lalu meminta Sufyan untuk membuatkan racun yang ampuh.

"Tentu aku mengerti masalahmu. Kau pasti menderita mengalami semua itu. Karenanya aku bersedia untuk membuatkan racun yang kau inginkan. Tapi aku berharap kau bisa melaksanakan saran yang akan kuberikan padamu," ucap Sufyan setelah mendengar cerita Urainab.

Meskipun dalam hatinya Urainab merasa sangat berdosa, namun ia mengangguk. "Apa saranmu?"

Sesungguhnya ia memahami satu hal. Islam mengajarkan bahwa mertua, orangtua dari pasangan kita, adalah orangtua kita juga. Ibu mertua adalah ibunya juga. Namun, rasa sakit hati dan amarah telah menutup dirinya dalam mencari cara yang baik dan benar sebagai jalan keluar.

"Sebelum kau memberikan racun ini, turutilah apa yang diperintahkan dan diinginkan oleh ibu mertuamu selama satu bulan," jawab Sufyan. "Baiklah." Urainab pun mengangguk setuju.

Wanita itu menyimpan racun dari Sufyan di dalam dompet, lalu pulang dengan perasaan lega. Harapan untuk hidup tenang menyusup ke dalam ruang pikirannya.

Urainab mengikuti saran Sufyan. Ia menurut setiap hal yang diperintahkan dan diinginkan oleh ibu mertuanya. Setiap hari ia pun membersihkan rumah, merapikan halaman, mencuci baju, memasak dan menyiapkan makanan, mendengarkan dengan baik ketika ibu mertuanya berbicara, serta melakukan banyak perbuatan baik lainnya. Tanpa terasa ia bersikap seperti kepada ibu kandungnya sendiri. Ia tidak lagi mendebat atau berselisih atas sebuah perkara.

Memang di awal ia ingin berontak dari semua itu. Tapi ia kembali teringat pesan Sufyan, lagipula hanya satu bulan. Setelah itu ia bisa lepas dari segala hal yang terasa membelenggunya. Seiring berjalannya waktu, suasana rumah jauh lebih tenang. Yazid pun merasa senang. Sejak istrinya menurut dan bersikap baik, ibunya pun tidak pernah lagi bersikap keras. Keduanya bahkan terlihat semakin dekat dan akrab. Rumah menjadi begitu hangat dan nyaman.

Satu bulan berlalu. Ini adalah waktu yang seharusnya ditunggu-tunggu oleh Urainab. Ia pun membuka dompetnya untuk mengambil sesuatu di sana. Racun untuk ibu mertuanya. Tangan Urainab bergetar melihat benda itu. Tangisnya pun pecah. Hatinya begitu nyeri dan tersayat. Apa yang sudah ia lakukan? Apakah ia benar-benar pernah menginginkan ibu mertuanya meninggal dengan memberi racun? Tubuh Urainab berguncang mengingat semua niat buruknya.

Ibu mertuanya sungguh baik. Kini Urainab mengerti itu. Wanita paruh baya itu hanya ingin menjadikannya seorang istri yang baik untuk suaminya. Ibu mertuanya mengajarkan banyak pelajaran bermakna untuknya. Berkat ibu mertuanya, Urainab bisa menyelesaikan pekerjaan rumah, memasak, dan melayani suaminya dengan baik.

Dari tempatnya, Urainab sayup-sayup mendengar perbincangan ibu mertuanya dengan seorang tamu. "Aku sungguh beruntung memiliki Urainab sebagai menantuku. Tidak ada yang lebih baik darinya sebagai menantu. Wanita itu sangat patuh, rajin, dan salihah." Nada bangga terdengar dari suara sang ibu mertua.

Bahu Urainab berguncang hebat karena tangis. Ia pun merasakan sesak dan nyeri di dadanya. Perasaan bersalah kembali merasuki hatinya. "Ya Allah, maafkan semua salah dan niat burukku."


"Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu." (HR Tirmidzi dan Ahmad) []

Komentar

 
Embed Widget

x