Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 19 Oktober 2017 | 10:25 WIB

Hadis Sahih yang Wajib Ditinggalkan tentang Nikah

Oleh : - | Minggu, 8 Oktober 2017 | 18:00 WIB
Hadis Sahih yang Wajib Ditinggalkan tentang Nikah
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

ADA sebagian dari hadits shahih yang memang wajib dijalankan dan berdosa bila ditinggalkan. Tetapi ketentuan itu tidak berlaku pada semua hadits shahih. Mengapa demikian? Sebab kita juga menemukan banyak sekali hadits shahih yang ternyata hukumnya tidak wajib untuk dikerjakan, tetapi hanya sebatas sunnah atau mubah saja, tidak sampai menjadi kewajiban. Maka meninggalkannya tidak lantas membuat kita berdosa.

Malah kadang ada hadis yang sahih tetapi justru wajib kita tinggalkan, misalnya menikah lebih dari empat istri. Di dalam kitab Shahih Bukhari ada disebutkan hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menggilir para istri Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dalam satu malam, padahal jumlah istri Beliau shallallahu 'alaihi wasallam saat itu ada sembilan wanita.

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggilir para istrinya dalam satu malam dan saat itu Beliau shallallahu 'alaihi wasallam memiliki 9 orang istri." (HR. Bukhari)

Catatan Penting :
- Keshahihan hadits itu bukan syarat satu-satunya dasar penentu hukum atas kewajiban melaksanakannya.
- Meskipun status suatu hadits itu shahih, hukumnya bisa wajib dikerjakan, tapi juga bisa sunnah, mubah, makruh bahkan haram.
- Dibutuhkan ilmu istimbath hukum seperti Ilmu Fiqih dan Ilmu Ushul Fiqih dan tidak menetukan hukum sekedar dari status keshahihan haditsnya saja.
- Hakikat keshahihan hadits itu hanya sebatas konfirmasi bahwa kejadian itu memang benar-benar terjadi di masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Tetapi apa yang menjadi kesimpulan hukumnya tidak secara otomatis sesuai dengan kejadian itu.
- Keshahihan suatu hadits sebenarnya tetap tidak bisa dilepaskan dari hasil ijtihad, sehingga bisa saja keshahihannya masih jadi perdebatan ulama hadits. Sebagian bilang shahih tapi boleh jadi sebagian bilang tidak shahih.

Wallahu a'lam bishshawab. [Ahmad Sarwat, Lc.,MA]

Komentar

 
Embed Widget

x