Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 17:15 WIB

Mengharap Disertai Usaha dan Tawakal

Oleh : - | Selasa, 3 Oktober 2017 | 09:00 WIB
Mengharap Disertai Usaha dan Tawakal
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

ALLAH Ta'ala telah berfirman, "Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut terhadap azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti." (QS Al-Isra, 17:57).

Frase mencari jalan dalam ayat ini artinya mencari cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ibadah dan mencintai-Nya. Ada tiga sendi iman, yaitu cinta, rasa takut, dan berharap.Tentang pengharapan ini Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya:

Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya. (QS Al-Kahf, 18:110)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Al-Baqarah, 2:218)

Di dalam hadis disebutkan dari Jabir radhiallahuanha, ia berkata, Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallaam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman, Aku berada pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Maka hendaklah dia membuat persangkaan kepada-Ku menurut kehendak-Nya." (HR Muslim)

Raja merupakan ayunan langkah yang membawa hati ke tempat Sang Kekasih, yaitu Allah dan negeri akhirat. Ada yang berpendapat Raja artinya kepercayaan tentang kemurahan Allah. Perbedaan Raja (mengharap) dengan berangan-angan, yaitu berangan-angan disertai kemalasan, pelakunya tidak pernah bersungguh-sungguh dan berusaha. Sementara, mengharap itu disertai dengan usaha dan tawakal.

Yang pertama seperti keadaan orang berangan-angan, andaikan dia mempunyai sebidang tanah yang dapat dia tanami dan hasilnya pun dipetik. Yang kedua seperti keadaan orang yang mempunyai sebidang tanah, lalu dia olah dan tanami, lalu dia berharap tanamannya tumbuh. Karena itu, para ulama telah sepakat bahwa Raja tidak dianggap sah kecuali disertai usaha.

Raja itu ada tiga macam. Dua macam merupakan perbuatan terpuji dan satu macam lagi merupakan perbuatan tercela. Pertama, harapan seseorang agar dapat taat kepada Allah SWT berdasarkan cahaya-Nya, lalu dia mengharap pahala-Nya. Kedua, seseorang yang berbuat dosa lalu bertobat dan mengharap ampunan, kemurahan, dan kasih-sayang-Nya. Ketiga, orang yang melakukan kesalahan dan mengharap rahmat Allah SWT tanpa disertai usaha. Ini sesuatu yang menipu dan harapan yang dusta.

Orang yang berjalan di jalan Allah mempunyai dua pandangan. Pertama, pandangan kepada diri sendiri, aib dan kekurangan amalnya, sehingga membukakan pintu ketakutan, agar dia melihat keluasan karunia Allah SWT. Kedua, pandangan yang membukakan pintu harapan baginya. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa batasan Raja adalah keluasan rahmat Allah.

Ahmad bin Asim pernah ditanya, "Apakah tanda Raja pada diri hamba?" Dia menjawab, "Jika dia dikelilingi kebaikan, maka dia mendapat ilham untuk bersyukur, sambil mengharap kesempurnaan nikmat dari Allah di dunia dan di akhirat, serta mengharap kesempurnaan ampunan-Nya di akhirat."

[Ditulis ulang dari karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah]

Komentar

 
Embed Widget

x