Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Oktober 2017 | 16:02 WIB

Berbeda! Pakaian Takwa dan Pakaian Penutup Aurat

Oleh : - | Jumat, 15 September 2017 | 08:00 WIB
Berbeda! Pakaian Takwa dan Pakaian Penutup Aurat
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

WALAU kita dituntut menutup aurat dengan pakaian kita, ingatlah pakaian takwa itu yang lebih baik.

Allah Taala berfirman, "Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.." (QS. Al-Araf: 26-27)

Faedah yang terkandung dalam ayat di atas:
- Perintah untuk menutupi aurat (pakaian pokok) dan pakaian yang lebih sempurna untuk berhias diri.
- Pakaian tadi dipakai dengan maksud untuk mendukung dalam ibadah dan ketaatan.
- Pakaian takwa lebih baik daripada pakaian lahiriyah. Pakaian takwa inilah yang terus bersama hamba tidak pernah lusuh dan rusak. Pakaian takwa itulah yang menghiasi hati dan ruh.
- Tidak adanya pakaian lahiriyah akan membuat aurat itu nampak, namun ketika dalam keadaan darurat masih boleh ditampakkan. Sedangkan kalau tidak adanya pakaian takwa, terbukalah aurat batin yang jelas menampakkan kehinaan dan aib.
- Setan berusaha untuk menggoda manusia, mengajak untuk menjadi pengikutnya sebagaimana Adam dan istrinya dahulu tergoda.
- Setan dari kalangan jin itu melihat kita dan terus bersama kita, sedangkan kita tidak bisa melihat mereka.
- Setan itu menjadi penolong dan pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

[Referensi: Tafsir As-Sadi. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi. Penerbit Muassasah Ar-Risalah/Muhammad Abduh Tuasikal]

Komentar

 
Embed Widget

x