Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 17:21 WIB

Pamer Dada dan Perut yang Atletis? Ini Hukumnya!

Oleh : - | Jumat, 15 September 2017 | 06:00 WIB
Pamer Dada dan Perut yang Atletis? Ini Hukumnya!
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

AURAT pria memang antara pusat dan lutut. Namun pantaskah seorang pria membuka dadanya atau memamerkan bodynya yang six pack? Tidak pantas seorang laki-laki memamerkan bodynya yang six pack, lebih-lebih lagi di hadapan para wanita. Taruhlah dada tidak termasuk aurat, namun memamerkan dada semacam itu termasuk khawarim al-muruah (menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang). Memamerkan body seperti itu pula termasuk perilaku orang fasik yang tidak pantas untuk diikuti.

Ada kaedah pula yang perlu dipahami bahwa perkara mubah jika berdampak jelek (mafsadat), maka perkara mubah tersebut menjadi terlarang karena adanya dampak tadi. Jikalau memamerkan dada akan menimbulkan godaan syahwat atau membuka pintu kejelekan, perbuatan tersebut menjadi terlarang. Kita berpakaian itu punya beberapa tujuan (hikmah):
- secara fitrah kita dituntut berpakaian
- berpakaian untuk berpenampilan atau tampil menawan
- berpakaian untuk melindungi diri dari panas dan dingin
- berpakaian untuk menutup aurat.

Namun ada pakaian yang lebih dituntut bagi kita untuk memakainya yaitu libasut taqwa (pakaian takwa). Disebutkan dalam ayat Al-Quran, "Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya." (QS. Al-Araf: 26-27)

Silakan jika ingin memiliki body six pack. Namun perhatikan pakaian takwa, ingat, pakaian takwa. Semoga jadi ilmu yang bermanfaat. [Referensi: Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid/Muhammad Abduh Tuasikal]

Komentar

 
Embed Widget

x