Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 24 November 2017 | 21:46 WIB

Tokoh Munafik Tewas Dibunuh Anaknya

Oleh : - | Rabu, 13 September 2017 | 13:00 WIB
Tokoh Munafik Tewas Dibunuh Anaknya
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

ABDULLAH bin Abdullah bin Ubay adalah anak seorang tokoh munafik terkemuka, Abdullah bin Ubay bin Salul. Berlawanan dengan ayahnya, Abdullah memeluk Islam dan menjadi salah satu sahabat pilihan yang dekat dengan Nabi SAW.

Sebelum kedatangan Nabi SAW ke Madinah, ayahnya, Abdullah bin Ubay hampir diangkat menjadi pemimpin (katakan saja, raja) Madinah. Sayang, kedatangan Nabi dan kaum muhajirin menggagalkan rencana itu. Pasalnya, kebanyakan penduduk Madinah kemudian memeluk Islam dan menjadikan Nabi SAW sebagai tokoh sentral mereka. Karena itulah Abdullah bin Ubay begitu membenci Nabi SAW, walau pada keseharian ia pun memeluk agama Islam.

Ketika Rasulullah SAW mendengar pimpinan Banu Musthaliq, Al Harits bin Abu Dhirar menghimpun pasukan untuk memerangi kaum muslimin, Beliau menyusun pasukan dan segera berangkat ke tempat Banu Musthaliq. Dalam pasukan yang dipimpin sendiri oleh Nabi SAW itu ikut juga sekelompok kaum munafik, termasuk pimpinannya, Abdullah bin Ubay.

Setelah pertempuran usai dan dalam perjalanan kembali ke Madinah, Abdullah bin Ubay berkata pada kelompoknya, "Jika kita kembali ke Madinah, orang-orang yang terhormat akan mengusir orang-orang yang terhina."

Ucapan terhina ini ia maksudkan kepada Nabi SAW dan sahabat Muhajirin yang terusir dari Makkah. Ketika kabar ini sampai kepada Nabi SAW lewat sahabat Zaid bin Arqam, Umar bin Khaththab meminta Nabi menyuruh Abbad bin Bisyr untuk membunuh si tokoh munafik Abdullah bin Ubay. Tetapi Abdullah bin Ubay berkukuh mengingkari kalau telah ia mengatakan itu, sehingga terjadi suasana yang tegang dan penuh prasangka, sampai akhirnya turun ayat yang membenarkan Zaid bin Arqam.

Melihat perkembangan situasi tersebut, Abdullah bin Abdullah bin Ubay mendatangi Nabi SAW dan berkata, "Ya Rasulullah, jika engkau menginginkan ayahku dibunuh, perintahkanlah aku untuk membunuhnya! Karena kalau orang lain yang engkau perintahkan membunuh, aku khawatir aku tidak bisa bersabar untuk tidak menuntut balas atas kematiannya, yang karenanya aku akan masuk neraka. Semua orang Anshar tahu, aku adalah orang yang berbakti pada orang tuaku."

Rasulullah SAW menjawab, "Baiklah, berbaktilah kepada orang tuamu, ia tidak melihat darimu kecuali kebaikan."

Tahulah Abdullah bahwa Rasulullah memaafkan ayahnya. Namun demikian, sebagai wujud kecintaan yang lebih besar kepada Allah dan Rasul-Nya daripada orang tuanya, Abdullah menghadang dengan pedang terhunus, dan melarang ayahnya masuk kota Madinah, kecuali jika Nabi SAW telah mengizinkan. Ketika mencoba memaksa, Abdullah menyerangnya dengan pedangnya itu sehingga ia mundur kembali. Dengan terpaksa ia mengirim utusan untuk meminta izin Rasulullah SAW.

Bagaimanapun juga, Abdullah adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ayahnya, dan itu telah lama terbentuk sebelum Islam memasuki kota Madinah. Anak tetaplah anak, dan ketika ayahnya tersebut meninggal, kesedihan merasuki hatinya.

Ia tahu bahwa orang tuanya itu mungkin hanya pantas berada di neraka, namun demikian ia ingin menunjukkan bakti terakhirnya. Ia datang kepada Nabi SAW meminta baju gamis beliau untuk mengkafani jenazahnya, dan beliau mengabulkannya. Sekali lagi ia datang kepada beliau untuk menyalatkan jenazahnya, dan beliau mengabulkannya, walau Umar sempat memprotes keras. Tetapi setelah itu turun ayat 84 dari surat at Taubah, yang melarang beliau untuk menyalati jenazah orang munafik dan berdiri di atas kuburan mereka. []

Komentar

 
Embed Widget

x