Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 18 Desember 2017 | 14:07 WIB

Berkuban dengan Cara Berutang

Oleh : - | Selasa, 5 September 2017 | 14:00 WIB
Berkuban dengan Cara Berutang
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

SASARAN perintah berkurban adalah orang yang mampu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki, namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami." (HR. Ahmad 8273, Ibnu Majah 3123, dan sanad hadits dihasankan al-Hafizh Abu Thohir).

Bagaimana jika berutang karena tidak mampu? Sebagian ulama secara tegas menganjurkan untuk berkurban meskipun harus utang.

Imam Sufyan ats-Tsauri menceritakan, bahwa Abu Hatim berutang untuk membeli seekor unta. Ketika ditanya, mengapa sampai utang? Jawab beliau, "Saya mendengar firman Allah, "Kalian akan mendapatkan kebaikan dari sembelihanmu itu." (Tafsir Ibn Katsir, 5/426).

Artinya, beliau meyakini, Allah akan memberi ganti dari upaya beliau dengan berutang untuk kurban.

Saran ini berlaku jika dia memiliki penghasilan dan memungkinkan untuk melunasi utangnya. Tapi jika dia tidak berpenghasilan, atau sudah punya banyak utang, sebaiknya menambah beban utangnya. Meskipun untuk ibadah.

Ibn Utsaimin mengatakan: "Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan utang dari pada berkurban." (Syarhul Mumti 7/455).

Dalam Majmu Fatawa, beliau juga ditanya tentang hukum utang untuk kurban. Beliau mengatakan,

"Ketika seseorang tidak memiliki dana untuk kurban di hari id, namun dia berharap akan mendapatkan uang dalam waktu dekat, seperti pegawai, ketika di hari id dia tidak memiliki apapun. Namun dia yakin, setelah terima gaji, dia bisa segera serahkan uang kurban, maka dalam kondisi ini, dia boleh berutang. Sementara orang yang tidak memiliki harapan untuk bisa mendapat uang pelunasan qurban dalam waktu dekat, tidak selayaknnya dia berutang."

Beliau menyebutkan alasannya,

"Jika tidak ada harapan untuk melunasinya dalam waktu dekat, kami tidak menganjurkannya untuk berutang agar bisa berkurban. Karena semacam ini berarti dia membebani dirinya dengan utang, untuk diberikan kepada orang lain. Sementara dia tidak tahu, apakah dia mampu melunasinya ataukah tidak. (Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 25/110)

Kecuali jika di suatu masyarakat, kegiatan kurban ini tidak digalakkan. Karena mungkin rata-rata mereka tidak mampu, atau mereka terlalu pelit sehingga keberatan untuk berkurban, maka dia dianjurkan untuk utang, apapun keadaannya, dalam rangka menghidupkan sunah (ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam) untuk berkurban.

Ini sebagaimana yang disarankan Imam Ahmad, bagi orang yang tidak memiliki biaya aqiqah, agar berhutang dalam rangka menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran. Imam Ahmad mengatakan,

"Jika dia tidak memiliki biaya untuk aqiqah, hendaknya dia berutang. Saya berharap agar Allah menggantinya karena telah menghidupkan sunah." (al-Mughni, 11/120).[Ustaz Ammi Nur Baits/konsultasisyariah]

Komentar

 
Embed Widget

x