Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 18 Desember 2017 | 14:11 WIB

Berkurban untuk Mencapai Ketakwaan

Oleh : - | Selasa, 5 September 2017 | 11:00 WIB
Berkurban untuk Mencapai Ketakwaan
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

SEBAGIAN orang memiliki kelebihan harta yang sebenarnya sudah bisa berqurban dengan satu ekor kambing atau 1/7 sapi secara patungan.

Namun memang sifat manusia sulit mengeluarkan harta yang ia sukai. Padahal qurban mengandung hikmah dan keutamaan yang besar. Kurban yang kita kenal biasa disebut dengan udhiyah. Secara bahasa udhiyah berarti kambing yang disembelih pada waktu mulai akan siang dan waktu setelah itu. Ada pula yang memaknakan secara bahasa dengan kambing yang disembelih pada Idul Adha.

Sedangkan menurut istilah syari, udhiyah adalah sesuatu yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri pada Allah Taala pada hari nahr (Idul Adha) dengan syarat-syarat yang khusus. (Lihat Al Mawsuah Al Fiqhiyyah, 5: 74).

Perintah Kurban

Qurban pada hari nahr (Idul Adha) disyariatkan berdasarkan beberapa dalil, di antaranya adalah firman Allah Taala, "Dirikanlah salat dan berqurbanlah (an nahr)." (QS. Al Kautsar: 2).

Di antara tafsiran ayat ini adalah "berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)". Tafsiran ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas, juga menjadi pendapat Atho, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama. (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 9: 249)

Dari hadits terdapat riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata,

"Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor kambing kibasy putih yang telah tumbuh tanduknya. Anas berkata : "Aku melihat beliau menyembelih dua ekor kambing tersebut dengan tangan beliau sendiri. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher kambing itu. Beliau membaca bismillah dan bertakbir." (HR. Bukhari no. 5558 dan Muslim no. 1966)

Kaum muslimin pun bersepakat (berijma) akan disyariatkannya kurban. (Fiqhul Udhiyah, hal. 8)

Hikmah Berkurban

1- Kurban dilakukan untuk meraih takwa. Yang ingin dicapai dari ibadah kurban adalah keikhlasan dan ketakwaan, bukan hanya daging atau darahnya. Allah Taala berfirman,

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. Al Hajj: 37)

Kata Syaikh As Sadi mengenai ayat di atas, "Ingatlah, bukanlah yang dimaksudkan hanyalah menyembelih saja dan yang Allah harap bukanlah daging dan darah kurban tersebut karena Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu dan Dialah yang pantas diagung-agungkan. Yang Allah harapkan dari kurban tersebut adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan niat yang sholih. Oleh karena itu, Allah katakan (yang artinya), "Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya". Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berkurban yaitu ikhlas, bukan riya atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan. Inilah yang mesti ada dalam ibadah lainnya. Jangan sampai amalan kita hanya nampak kulit saja yang tak terlihat isinya atau nampak jasad yang tak ada ruhnya." (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 539).

2- Kurban dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.

3- Kurban dilaksanakan untuk menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim kholilullah (kekasih Allah)- alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).

4- Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Ismail alaihimas salaam, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Ismail diganti seekor domba. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya. (Lihat Al Mawsuah Al Fiqhiyyah, 5: 76)

5- Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan qurban.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdal daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan kurban." (Lihat Talkhish Kitab Ahkamil Udhiyah wadz Dzakaah, hal. 11-12 dan Shahih Fiqh Sunnah, 2: 379)

Tetaplah Berkurban Ketika Mampu Walau Hukum Kurban Sunah

Dari Ummu Salamah radhiyallahu anha, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga." (HR. Muslim no. 1977)

Imam Asy Syafii rahimahullah berkata, "Dalam hadits ini adalah dalil bahwasanya hukum qurban tidaklah wajib karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jika kalian ingin menyembelih kurban ". Seandainya menyembelih qurban itu wajib, beliau akan bersabda, "Janganlah memotong rambut badannya hingga ia berkurban (tanpa didahului dengan kata-kata: Jika kalian ingin , pen)"." (Disebutkan oleh Al Baihaqi dalam Al Kubro, 9: 263)

Walau menurut pendapat mayoritas ulama hukum berqurban itu sunah, tetaplah berqurban apalagi mampu. Untuk orang yang mampu dan kaya mengeluarkan 2,5 juta rupiah untuk kurban kambing atau patungan sapi sebenarnya begitu enteng. Tinggal niatan saja yang perlu dikuatkan.

Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah setelah memaparkan perselisihan ulama mengenai hukum kurban, beliau berkata, "Janganlah meninggalkan ibadah kurban jika seseorang mampu untuk menunaikannya. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri memerintahkan, "Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu dan ambil perkara yang tidak meragukanmu." Selayaknya bagi mereka yang mampu agar tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan. Wallahu alam." (Adhwaul Bayan, 5: 618)

Berutang Tidaklah Masalah untuk Berkurban

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan, "Dulu Abu Hatim pernah mencari utangan dan beliau pun menggiring unta untuk disembelih. Lalu dikatakan padanya, "Apakah betul engkau mencari utangan dan telah menggiring unta untuk disembelih?"

Abu Hatim menjawab, "Aku telah mendengar firman Allah,

"Kamu akan memperoleh kebaikan yang banyak padanya." (QS. Al Hajj: 36)". (Tafsir Al Quran Al Azhim, 5: 415)

Untuk masalah aqiqah, Imam Ahmad berkata,

"Jika seseorang tidak mampu aqiqah, maka hendaknya ia mencari utangan dan berharap Allah akan menolong melunasinya. Karena seperti ini akan menghidupkan ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam." (Matholib Ulin Nuha, 2: 489, dinukil dari Al Mawsuah Al Fiqhiyyah, 30: 278). Untuk qurban pun berlaku demikian, bisa dengan berutang.

Pilihlah Hewan Kurban Terbaik

Ciri-ciri hewan yang terbaik untuk qurban adalah: (1) gemuk, (2) warna putih atau warna putih lebih mayoritas, (3) berharga, (4) bertanduk, (5) jantan, (6) berkuku dan berperut hitam, (7) sekeliling mata hitam.

Hewan kurban yang dipilih adalah yang sudah mencapai usia musinnah. Musinnah dari kambing adalah yang telah berusia satu tahun (masuk tahun kedua). Sedangkan musinnah dari sapi adalah yang telah berusia dua tahun (masuk tahun ketiga). Sedangkan unta adalah yang telah genap lima tahun (masuk tahun keenam). Inilah pendapat yang masyhur di kalangan fuqoha. Atau bisa pula memilih jadzaah yaitu domba yang telah berusia enam hingga satu tahun.

Kemudian jauhi cacat hewan kurban yang wajib dihindari yang bisa membuat kurbannya tidak sah. Ada empat cacat yang membuat hewan qurban tidak sah: (1) buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, (2) sakit dan tampak jelas sakitnya, (3) pincang dan tampak jelas pincangnya, (4) sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang. Kalau dianggap tidak sah, berarti statusnya cuma daging biasa, bukan jadi qurban.

Sedangkan cacat yang tidak mempengaruhi turunnya kualitas daging tidaklah masalah seperti ekor yang terputus, telinga yang terpotong dan tandung yang patah. Cacat ini yang dimakruhkan.

Intinya, ketika berqurban berusaha memilih hewan qurban yang terbaik, menghindari cacat yang membuat tidak sah dan cacat yang dimakruhkan. Ibnu Taimiyah sampai berkata,

"Pahala kurban (udhiyah) dilihat dari semakin berharganya hewan yang dikurbankan." (Fatawa Al Kubro, 5: 384). Semakin berharga hewan kurban yang dipilih, berarti semakin besar pahala.

Berqurban itu begitu mudah, kita bisa berqurban dengan 1 kambing atau patungan 1/7 sapi. Masing-masing kurban tersebut bisa diniatkan untuk satu keluarga. Imam Asy Syaukani rahimahullah pernah berkata, "Kurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih." (Nailul Author, 8: 125).

Semoga bermanfaat. Moga Allah berkahi rezeki setiap yang mau berkurban.[]

* Diringkas dari bahasan buku "Panduan Qurban dan Aqiqah" karya Muhammad Abduh Tuasikal,

Komentar

 
Embed Widget

x