Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 November 2017 | 18:43 WIB

Cara Mensucikan Ban Kendaraan Terkena Najis Anjing

Oleh : - | Selasa, 5 September 2017 | 06:00 WIB
Cara Mensucikan Ban Kendaraan Terkena Najis Anjing
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

JAWABNYA kalau memang ban motor itu sudah dipastikan terkena najis mughallazhah, tentu cara mensucikannya adalah dengan mencucinya tujuh kali, dan salah satunya dengan menggunakan tanah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terkait dengan anjing yang memasukkan moncongnya ke dalam air dalam suatu wadah.

Ada banyak hadits tentang air liur anjing ini, salah satunya diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya: Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sucinya wadah air kalian yang diminum anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali salah satunya dengan tanah." (HR. Muslim)

Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sucinya wadah kalian yang dimasuki mulut anjing adalah dengan mencucinya 7 kali". (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun perlu diingat bahwa Itu pun sebenarnya tidak perlu Anda lakukan. Toh ban motor itu tidak akan Anda gunakan untuk salat, bukan? Sedangkan perintah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk mencuci tujuh kali itu karena tempat wadah air itu akan digunakan untuk minum, wudu bahkan mandi janabah. Kalau tidak disucikan dulu, nanti najisnya akan menular kemana-mana.

Sedangkan ban motor Anda itu sama sekali tidak akan digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan minum, wudu dan mandi janabah. Tugas ban motor itu hanya untuk berjalannya roda motor anda. Tidak ada kaitannya dengan sesuatu yang mengharuskan atau mensyaratkan kesucian. Lagian kalau pun suatu ketika Anda terpaksa salat di atas motor (itu pun kalau bisa dilakukan), tidak ada urusannya dengan ban motor yang terkena air liur anjing. Sebab Anda kan tidak salat dengan menempelkan badan ke ban motor Anda.

Yang jadi masalah dengan air liur anjing dan juga najis-najis lainnya adalah bahwa kita tidak boleh salat dalam keadaan menempel dengan najis itu. Baik najis itu menempel pada badan kita secara langsung, atau menempel pada pakaian yang kita gunakan ketika salat. Dan salat juga tidak sah apabila najis itu menempel pada tempat salat kita secara langsung. Tetapi kalau menempelnya tidak secara langsung, seperti kita salat dengan menggunakan alas yang kering dan suci, di atas kotoran hewan yang najis, maka meskipun menempel tetapi tetap diperbolehkan. Wallahu a'lam bishshawab. [Ahmad Sarwat, Lc., MA]

Komentar

 
Embed Widget

x