Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 23 September 2017 | 14:28 WIB

Celaka, Punya Hati Tapi tak Merasakan Hidayah

Oleh : - | Kamis, 31 Agustus 2017 | 17:00 WIB
Celaka, Punya Hati Tapi tak Merasakan Hidayah
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

BETAPA meruginya orang yang memiliki mata, namun ia tak bisa melihat kebenaran. Betapa bangkrutnya orang yang memiliki telinga, namun ia tak bisa mendengarkan nasihat. Betapa celakanya orang yang memiliki hati, namun ia tak bisa lagi merasakan hidayah.

Tertutupnya hidayah adalah puncak musibah. Ketika nasihat tak lagi didengar. Ketika kebenaran ditentang dan dimusuhi. Ketika Alquran diremehkan. Ketika sunnah Nabi dicemooh dan dimaki.

Seorang Muslim, tak mungkin tertutup hidayah baginya secara tiba-tiba. Tetapi, ada proses yang ia lalui. Rasulullah menjelaskan proses itu dalam sabdanya:

"Jika seorang mukmin berbuat satu dosa, maka diberikan satu titik hitam dalam hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan dosa tersebut, dan memohon ampunan, maka hatinya kembali mengkilap. Namun apabila ia bertambah melakukan dosa, titik hitam itu juga bertambah, hingga akhirnya menutup hatinya. Inilah yang disebutkan Allah Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka."(QS. Al Muthaffifin: 14) (HR. Ibnu Majah; hasan)

Seorang Muslim sesungguhnya adalah seorang yang telah mendapatkan hidayah Islam. Namun jika dalam keislamannya ia melakukan dosa, dosa itu menghadirkan satu titik hitam di hatinya. Jika ia bermaksiat, maksiat itu menghadirkan satu titik hitam di hatinya. Dosa dan maksiat yang ditumpuk-tumpuk, yang dilakukan terus menerus, itulah yang lama-lama menghitamkan seluruh hatinya. Jika sudah hitam seluruhnya, ibarat cermin ia tak bisa lagi memantulkan cahaya. Demikian pula hati, ia tak lagi bisa menerima hidayah.

"Jika seorang hamba melakukan dosa, maka diberikan titik hitam di dalam hatinya," kata Hudzaifah Ibnul Yaman, "sampai akhirnya seolah-olah ia sebagaimana seekor kambing hitam berbintik merah."

Dikisahkan ada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Ia terkenal dengan kebaikan dan ibadahnya. Suatu hari, seorang raja yang putrinya sakit datang kepadanya untuk meminta diobati dan didoakan kesembuhan.

Ia yang semula rajin ibadah, ternyata terperosok dalam dosa. Ketika putri raja itu ditinggalkan beberapa hari untuk diobati, ia yang berduaan lalu tertarik kepadanya. Inilah satu dosa pertama. Namun, dosa itu diteruskannya. Hingga terjadilah kemaksiatan besar antara pria dan wanita. Takut kehormatannya rusak, dibunuhlah putri raja tersebut. Dosanya semakin besar, hatinya makin menghitam.

Takut ketahuan membunuh, ia kubur gadis itu di belakang rumahnya dan ia mengatakan kepada raja bahwa gadis itu hilang entah ke mana. Rupanya, raja akhirnya tahu bahwa sang anak telah dibunuh dan dikubur di sana. Setelah membongkar makam itu, raja memutuskan hukuman berat; hukuman mati.

Saat hendak dihukum mati itulah syetan datang kepadanya menawarkan bantuan. Dengan satu syarat, ia harus mengakui bahwa syetanlah Yang Maha Kuasa. Ahli ibadah itu menolak. Namun syetan menawarkan hal yang lebih halus, cukuplah ahli ibadah itu menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan dan permintaan bantuan. Ahli ibadah akhirnya takluk dan menurutinya. Tertutup sudah hidayah.

Ia keluar dari tauhid tanpa sadar. Bukannya setan melepaskannya sesuai janji, saat ahli ibadah itu menunduk, setan justru menebas lehernya. Jadilah ia suul khatimah.

Mungkin fenomena tertutupnya hidayah tak selalu seekstrem kisah itu. Tetapi ketika dosa demi dosa membuat kita menolak kebenaran dan asyik dalam kedurhakaan, itu tanda hati kita telah menghitam.

Tercatat dalam sejarah, ada orang-orang yang secara formal beridentitas Islam, tetapi ia menentang kebenaran. Ia tak mau dinasehati. Bahkan ulama ia musuhi dan Islam ia bonsai. Secara identitas ia Islam, tetapi pada hakikatnya ia tertutup dari hidayah.

Maka, jika kita melakukan dosa jika kita melakukan kemaksiatan segeralah kembali kepadaNya. Bertaubat dan memohon ampunan. Menyesal dan berkomitmen takkan mengulang. Semoga Allah menghilangkan titik-titik hitam dari hati kita dan senantiasa membuka pintu hidayah bagi kita. [Bersamadakwah]

 
Embed Widget

x