Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 27 Mei 2018 | 16:43 WIB
 

Melongok Tradisi Perayaan Idul Adha di Tanah Air

Oleh : - | Jumat, 1 September 2017 | 07:00 WIB
Melongok Tradisi Perayaan Idul Adha di Tanah Air
(Foto: ilustrasi)

TIDAK banyak yang tahu kalau hari raya Idul Adha memiliki tradisi di masyarakat Indonesia. Selain utamanya memotong hewan kurban, beberapa masyarakat merayakan Idul Adha dengan cara berbeda-beda.

Berikut adalah tradisi di setiap daerah saat hari raya Kurban;

Tradisi "ngejot" di Bali

Sebagian besar orang Bali memang beragama Hindu. Namun bukan berarti masyarakat Muslim di Pulau Dewata ini tidak mempunyai tradisi yang spesial.

Umat muslim di Banjar Angantiga di Desa Petang, Kecamatan Petang, Badung mempunyai tradisi "ngejot" kepada umat lain, terutama warga Hindu yang ada di Banjar itu. Ngejot adalah saling berbagi makanan saat umat Hindu maupun Muslim merayakan hari raya keagamaan.

"Kalau umat Islam merayakan Idul Fitri atau Idul Adha, kami biasa membagikan makanan ke saudara-saudara kami yang Hindu. Demikian juga, kalau umat Hindu hari raya, kami juga dikirimi makanan oleh mereka," kata M Ramsudin, kepala kampung Angantiga.

Ngejot merupakan tradisi untuk hidup berdampingan dengan damai bersama warga yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Tradisi seperti itu telah diwarisi turun temurun sejak 500 tahun silam, berkat adanya saling pengertian dan menghormati satu sama lainnya.

Tradisi jemur kasur di Banyuwangi

Masyarakat Osing yang di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, mempunyai kebiasaan unik menjelang Idul Adha. Mereka melakukan tradisi "mepe kasur" atau menjemur kasur di bawah terik matahari di depan rumah mereka masing-masing.

Saat dijemur sejak pagi hingga sore, alas tidur yang sebagian besar berwarna dasar hitam dengan tepi merah itu dipukul-pukul menggunakan sapu lidi atau rotan agar bersih.

Masyarakat Osing meyakini dengan mengeluarkan kasur dari dalam rumah dapat membersihkan diri dari segala penyakit. Khusus bagi pasangan suami istri, tradisi ini bisa diartikan terus memberikan kelanggengan.

"Setelah matahari melewati kepala alias pada tengah hari, semua kasur harus digulung dan dimasukkan. Konon jika tidak segera dimasukkan hingga matahari terbenam, kebersihan kasur ini akan hilang dan khasiat untuk menghilangkan penyakit pun tidak akan ada hasilnya," kata Suhaimi, Ketua Adat Kemiren, kepada Liputan6.com.

Tradisi manten sapi di Pasuruan

Sehari menjelang Idul Adha, warga Desa Wates Tani, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur menggelar "manten sapi" atau pengantin sapi untuk menghormati hewan kurban yang akan disembelih.

Sapi-sapi yang akan disembelih dirias secantik mungkin sebelum diserahkan ke panitia kurban di masjid.

Acara ini dimulai dengan memandikan sapi menggunakan air kembang agar bersih. Kemudian, sapi-sapi itu dikalungi hiasan bunga tujuh rupa supaya terlihat cantik atau tampan layaknya pengantin. Tubuh binatang ini kemudian diselubungi kain putih.

Setelah dirias, hewan ini diarak oleh warga kampung menuju masjid untuk diserahkan ke panitia kurban. Sementara itu ratusan ibu-ibu meramaikan acara ini dengan membawa peralatan rumah tangga dan berbagai bumbu dapur sebagai persiapan saat penyembelihan sapi.

"Artinya sapi-sapi ini untuk dimuliakan sebelum nantinya disembelih untuk kurban. Dan yang paling penting adalah bertujuan mengajak warga yang belum berkurban pada Idul Adha kali ini agar tahun depan dapat berkurban pula," jelas Abdul Kahfi, anggota panitia Idul Adha di Desa Wates Tani kepada sebuah media online.

Tradisi apitan di Semarang

Warga Semarang memiliki tradisi unik menjelang Idul Adha, yaitu "sedekah bumi apitan". Acara ini dilakukan dengan mengarak tumpeng dan hasil bumi di jalan-jalan kampung. Hal ini bertujuan sebagai bentuk rasa syukur mereka kepada Allah atas limpahan rezeki kepada mereka.

Bentuk syukur itu disimbolkan dengan arak-arakan hasil bumi yang disusun bertumpuk, seperti misalnya padi, cabe terong, jagung, tomat, kacang panjang, timun dan wortel.

Biasanya tradisi ini dilaksanakan di kantor kelurahan dan diakhiri dengan pembacaan doa bagi keselamatan seluruh warga. Lalu dilanjutkan dengan warga yang berebut untuk mendapatkan hasil bumi yang disusun membentuk gunungan.

Tradisi grebeg di Yogyakarta

Kesultanan Yogyakarta biasanya menggelar "Grebeg Besar" di pelataran Masjid Gede Kauman sebelum hari raya Idul Adha. Grebeg tersebut merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh keraton kesultanan Yogyakarta. Masyarakat pun menyambut antusias acara ini di lapangan Alun-alun Utara untuk melihat arak-arakan gunungan yang berisi berbagai hasil bumi yang dikirab oleh prajurit Keraton Yogyakarta.

Biasanya acara tradisi grebeg besar Idul Adha diawali dengan keluarnya iringan pasukan keraton Yogyakarta. Mereka mengenakan seragam dan atribut beraneka warna sambil membawa senjata tradisional seperti tombak, keris, serta senapan kuno.

Di belakang pasukan keraton selanjutnya muncul iring-iringan gunungan arebeg besar Idul Adha. Gunungan itu ada empat yakni gunungan lanang (laki-laki), gunungan wadon (perempuan), gunungan gepak, dan gunungan pawuhan.

Iring-iringan pasukan keraton Yogyakarta dan empat gunungan keluar dari dari dalam keraton melewati Siti Hinggil, Pagelaran, dan menuju Alun-Alun Utara.

Setelah tiba di Masjid Gede maka keempat gunungan itu akan didoakan terlebih dahulu oleh penghulu keraton. Selesai didoakan oleh penghulu keraton, dalam waktu sekejap, empat gunungan yang berisi hasil bumi langsung habis direbut oleh masyarakat. []

Komentar

 
Embed Widget

x