Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 September 2017 | 16:51 WIB

Amal Terasa Gersang Tanpa Kenikmatan Ibadah

Oleh : - | Jumat, 18 Agustus 2017 | 07:00 WIB
Amal Terasa Gersang Tanpa Kenikmatan Ibadah
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

KONON, pada zaman Nabi Syuaib seseorang menemui sang Nabi. "Allah telah melihat semua perbuatan buruk yang kulakukan," kata dia. "Tetapi karena kasih sayang-Nya ia tak menghukumku."

Allah kemudian berbicara kepada Nabi Syuaib: "Jawablah dia. Sebaliknyalah yang terjadi, meski dia tak menyadarinya. Jawablah, Kamu sudah berputar-putar tanpa arah di belantara hidup, tangan kakimu terbelenggu. Kamu adalah poci yang terus menumpuk karat. Makin lama, kamu kian buta dari hal-hal ruhaniah. Ketika asap menjilat poci tembaga baru, orang segera melihat bekasnya."

"Tetapi dengan permukaan segelap kamu, siapa yang akan tahu ia menjadi lebih hitam? Di kala kau berhenti bertafakur, tumpukan karat menembus cermin jiwamu. Dan ada lagi gemerlap di dalamnya. Tenggelamkan dirimu ke dalam asam yang membersihkan tembaga. Kikis habislah noda dan kerakmu."

Dalam satu Matsnawi-nya, Rumi menulis bahwa mungkin saja kita telah banyak melakukan ibadah ibadah, menahan diri dengan berpuasa, salat dan zakat; tapi tak satu pun kita rasakan lezatnya. Terserak di samping kita kulit kacang, tanpa sekali pun kita temukan kacang manis di dalamnya. Seharusnya tentu ada rasa, ada kenikmatan. Amal akan terasa gersang tanpa guna tanpa adanya kenikmatan. Karena bentuk tanpa jiwa hanyalah khayalan hampa. Surat bijan nabasyad juz khayal.

Kita berlindung dari situasi itu, tentu. Kita bermohon agar segala ibadah kita, tangis penyesalan, sujud dan harap permohonan kita, menjadi cairan asam yang akan mencemerlangkan poci tembaga ruhani kita dari kerak dan karat.

Semoga semua riyadah itu membawa lezatnya iman ke dalam dada, menerangi jalan kita ke depan. Seorang ustaz dari Bandung pernah menyatakan, kelezatan itu biasanya datang bila kita rela menyisihkan ruang untuk berbagi. Ruang rezeki, ruang waktu kita, ruang kepedulian kita.. []

 
Embed Widget

x