Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 13 Desember 2017 | 20:15 WIB

Nasehat Terbijak dari Orang Gila

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 28 Juli 2017 | 00:08 WIB
Nasehat Terbijak dari Orang Gila
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

ADALAH biasa di Madura banyak orang menghargai orang yang menurut banyak orang dianggap gila, tidak waras, tidak normal atau tidak lazim. Begitu baiknya orang Madura sampai kadang memposisikan mereka sebagai orang dekatnya Allah yang sedang berpura-pura gila demi menutupi posisi sesungguhnya di hadapan Allah.

Maka terkenallah istilah "khelaf" yang bermakna berbeda dengan yang lain yang tak boleh dihukumi dengan hukum normal. Orang khelaf ini kadang diposisikan lebih tinggi dibandingkan orang normal. Normalkah ini? Kita boleh berbeda pendapat.

Misdan adalah seorang yang sangat menghargai orang yang dianggap gila ini, yang bernama Amang. Amang memang berperilaku nyeleneh, kadang ketawa saat yang lain sedih, dan bersedih saat yang lain ketawa. Orang membaca dia sebagai pribadi yang paham hakikat yang tak banyak dipahami orang awam.

Misdan kerap duduk bersamanya dan kadang mengikutinya ke mana ia pergi. Minggu kemarin saya bertemu Misdan sedang duduk dengan Amang di pojokan langgar, mushalla khas Madura. Rupanya, Misdan sedang konsultasi masalah pribadinya. Mereka tak tahu ada saya sedang duduk setelah shalat.

Misdan bertanya: "Bindhara, kepalaku pusing, pikiranku kacar, masalah yang memenuhi kepalaku banyak. Bagaimana biar saya tenang?" Saya yang nguping penasaran sekali bagaimana jawab Amang ini. Ternyata jawabannya sangat masuk akal dan melampaui kewarasan akal orang yang dianggap waras.

Dengan menatap langit Amang menjawab: "Berusahalah dengan cara apapun untuk melepaskan diri dari masalah yang ada di kepalamu. Kalau tidak bisa, lepaskan dirimu dari kepalamu." Saya ketawa dalam hati dan Misdan manggut-manggut. Ntar apa tafsiran dari anggukannya itu. Bagus jawabannya, bukan?

Setelah Misdan pulang dan Amang duduk sendiri saya mendekat dan berbisik: "Bindhara, banyak tamu saya tanya bagaimana caranya cepat kaya dan lunas utang. Harus kujawab apa?" Lama dia terdiam dan menatap wajahku. Saya menunggu lama juga keluarnya jawabannya. Tiba-tiba dia tertawa ngakak dan berkata: "Sesama gilanya dilarang saling bertanya." Saya garuk kepala dan kemudian pergi. Dia menarik tanganku dan membisikkan sesuatu sambil meneteskan air mata. Salam, AIM. [*]

Komentar

 
Embed Widget

x