Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Agustus 2017 | 00:57 WIB

Alquran tidak Perlu Banyak Dibaca?

Oleh : - | Jumat, 9 Juni 2017 | 17:00 WIB
Alquran tidak Perlu Banyak Dibaca?
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

SUATU hari di sebuah majelis ilmu, Al Junaid bertanya kepada muridnya, Ibnu Atha, "Wahai muridku, berapa banyak surat dalam Alquran yang berhasil engkau baca tiap harinya?"

"Aku biasa mengkhatamkan Alquran dua kali setiap hari," jawab Ibnu Atha dengan mantap.

Mendengar itu, Al Junaid kembali bertanya, "Bagaimana kamu bisa mengkhatamkan Kalam-Nya dengan begitu cepat?"

"Aku begitu mencintai-Nya, hingga tak sanggup rasanya bila sebentar saja tidak membaca risalah itu."

"Muridku, engkau belum mencintai-Nya jika dapat menyelesaikan kalam-Nya dengan sangat cepat," ujar sang guru.

Mendengar penjelasan gurunya yang sangat dihormati itu, Ibnu Atha begitu kecewa. Bukan sanjungan atau pujian yang ia dapatkan, namun sebaliknya. Ia pun permisi pamit pulang dari majelis ilmu tersebut.

Hatinya begitu gundah. Ia terus memikirkan apa yang diungkapan sang guru. Selama ini, ia sudah begitu berusaha keras membaca dan mengkhatamkan Alquram dengan sebaik dan secepat mungkin. Namun, gurunya itu mengatakan usahanya tak menunjukkan kecintaan Ibnu Atha pada Tuhan-nya.

Bertahun-tahun waktu pun telah berlalu. Di suatu kesempatan, Al Junaid kembali bertanya, "Muridku, berapa banyak ayat Alquran yang berhasil engkau khatamkan setiap harinya?"

Mendengar pertanyaan itu, angannya melayang ke belasan tahun silam. Masih jelas betul dalam kepalanya saat gurunya itu bertanya perihal ini.

Ia pun menjawab, "Dulu aku biasa mengkhatamkan Alquran dua kali setiap hari. Kini, selama empat belas tahun sudah aku membaca Alquran, tapi hingga saat ini, aku baru sampai pada surat Al Anfal."

"Bagaimana bisa engkau mengaku mencintai-Nya, namun begitu lamban membaca Kalam-Nya?" tanya Al Junaid kemudian.

Dengan hormat Ibnu Atha menjawab, "Guru, bagaimana mungkin aku mengaku mencintai Tuhan, sementara tanganku begitu cepat membalik lembar mushaf hanya untuk menyelesaikan bacaan? Bagaimana mungkin aku mengaku mencintai Tuhan, sementara lisanku begitu cepat ingin beralih dari mengagungkan-Nya demi mengejar banyaknya ayat yang kubaca? Bagaimana mungkin aku menginginkan perjumpaan dengan-Nya, sementara aku belum paham benar isi dari Kalam-Nya?" jawabnya.

"Lisanku begitu kelu untuk beralih. Tanganku begitu enggan untuk membalikkan lembar Alquran sebelum aku mampu memahaminya. Aku belajar untuk menjadi manusia yang beriman dari kitab suci ini, aku juga belajar berbagai ilmu sebagai pondasiku dalam beribadah pada-Nya, serta dari kalam-Nya pula aku mengamalkan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang," lanjutnya.

Ia menambahkan, "Guru, tak perlu kiranya aku memburu jumlah juz atau seberapa banyak aku berhasil mengkhatamkan Alquran di setiap waktunya, jika aku hanya berlalu darinya tanpa ilmu dan pengamalan apapun atas bacaanku," lanjutnya.

Sang guru pun menepuk pundak Ibnu Atha, "Kau berhasil menempuh jalan-Nya, Nak! Seorang insan yang begitu mencintai Tuhannya akan sangat hati-hati memahami kalam-Nya, sehingga ia mampu mengamalkan apa yang Dia (Allah) perintahkan dan apa yang Dia larang, dalam mushaf itu."
==

Fariduddin Aththar bercerita tentang Abu al Abbas Ahmad ibnu Muhammad ibnu Sahl ibnu Atha al Adami. Ia merupakan seorang murid terdekat Al Junaid. Selain dikenal sebagai sufi, ia juga dikenal sebagai penggubah syair dari Baghdad.Ibnu Atha meninggal pada 309 H/ 922 M. [islamindonesia ]

 
Embed Widget

x