Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Agustus 2017 | 00:51 WIB

Membaca Kembali Sejarah Manusia (1)

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 7 Juni 2017 | 00:15 WIB
Membaca Kembali Sejarah Manusia (1)
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

FAKTA yang unik bahwa kebanyakan manusia itu tidak tahu tentang sejarah lengkap manusia. Yang banyak dibaca adalah hanya sejarah yang berhubungan dengan kebangsaan dan kenegaraan. Tak salah, namun kurang lengkap, karena ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari sejarah lengkap manusia itu.

Saya baru menyadari hikmah-hikmah itu setelah membaca buku karya Noah Harari, "Sapien." Di antaranya adalah bahwa masyarakat pemburu yang hidup sebelum masa era pertanian adalah lebih bahagia dibandingkan dengan masyarakat petani. Alasannya sederhana, yakni mereka lebih punya waktu untuk saling berkunjung dan bercerita dengan tetangga, sahabat dan saudara. Mereka bekerja tak berlebihan sehingga leluasa menikmati alam dan kehidupan.

Bayangkan betapa enjoynya mereka dibandingkan dengan kita yang hidup di era industrial yang serba sibuk berlomba menumpuk harta walau tak pernah menikmatinya. Rumah, villa dan apartemen dimiliki dengan bekerja keras tanpa istirahat, sementara yang ditempatinya untuk tidur dan berak hanya satu kamar saja.

Tak punya waktu untuk menyapa, karena mata sibuk menatap hape, telinga tertutupi bluetooth dan earphone atau headphone dan mulut sibuk melafalkan angka-angka. Berbanding terbalik dengan masyarakat tradisional dan kuno itu, bukan?

Sebenarnya tak perlu jauh-jauh masuk kembali pada masa lalu untuk mencari potret bandingan. Pulanglah ke desa, jenguklah kampung petani, maka akan kita temukan saat-saat damai dan tenang. Usai tarawih mereka duduk di teras masjid atau mushalla bercerita dan berkelakar tentang pertaniannya atau tentang permainan gobak sodor di kampungnya.

Bandingkan dengan masyarakat kota modern, yang malamnya dipenuhi kesibukan sendiri mencari berita baru dan menyebarkannya seakan dengan itu sudah menjadi "penguasa" dunia berita, sementara siangnya digunakan berlomba mengalahkan siapa, bukan berlomba membantu siapa.

Lalu, bagaimana dengan kecerdasan manusia? Betulkah manusia kini lebih cerdas dari pada manusia dulu? Tulisan berikutnya akan membahasnya. Salam, AIM. [*]

 
Embed Widget

x