Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 05:50 WIB

Kenapa Kita Harus Menjaga Pandangan?

Oleh : - | Minggu, 4 Juni 2017 | 11:00 WIB
Kenapa Kita Harus Menjaga Pandangan?
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

"KATAKANLAH kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya"

Bagi para muslimah tentunya tidak asing lagi mendengar terjemahan ayat di atas, yaitu firman Allah yang terdapat pada Alquran surat an-Nur ayat 31 yang menjelaskan beberapa hal mengenai kewajiban untuk menahan pandangan (godhul bashor).

Sebenarnya apa yang salah dengan pandangan? Bukankah kita diberi mata untuk melihat? Kita memang diberi mata untuk melihat ciptaan Allah, hanya semua itu ada aturannya. Kita diminta untuk memalingkan pandangan dari hal-hal yang Allah haramkan, apalagi pada lawan jenis yang bukan mahrom.

Lalu, yang menjadi pertanyaan kenapa kita harus menjaga pandangan tersebut? Berikut adalah beberapa alasannya:

Pandangan yang liar adalah sarana menuju yang haram, dalam sebuah riwayat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya." (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim)

Membiarkan pandangan lepas adalah bentuk kemaksiatan kepada Allah. Allah berfirman dalam Alquran surat An-Nur ayat 30, yang artinya, "Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."

Masuknya Setan Ketika Seseorang Sudah Memandang

Masuknya setan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Parahnya, setan akan menjadikan wujud yang dipandang sebagai berhala tautan hati, mengobral janji serta angan-angan. Lalu ia menyalakan api syahwat dan ia lemparkan kayu bakar maksiat.

Pintarnya lagi, setan akan menyesatkan manusia secara bertahap. Ada pepatah yang mereka pegangi; berawal dari pandangan, lalu berubah menjadi senyuman, kemudian beralih menjadi percakapan, kemudian berganti menjadi janjian, yang pada akhirnya berubah menjadi pertemuan. Begitu hebatnya setan melemparkan panah beracun pada diri kita dan setan melemparkannya secara bertahap sehingga kadang kita tidak menyadarinya. Astaghfirullahtidak percaya? Masih ingat dengan kisah Yusuf dan para bangsawati yang mengiris-ngiris jari kan?

Pandangan tersebut akan menyibukkan hati

Seseorang yang hatinya sibuk akan menyebabkannya lupa akan hal-hal yang bermanfaat baginya. Akhirnya, ia akan selalu lalai dan hanya mengikuti hawa nafsunya. Secara tidak sadar kita dapat merusak hati orang lain, seringkali pandangan seorang wanita kepada laki-laki tak hanya merusak hati si pemandang. Ketika dicampur dengan senyum, tunduk atau berbisik dengan rekannya sesama perempuan, lalu bayangan ini tertangkap oleh laki-laki yang dipandang atau yang merasa GR (gede rasa) karena merasa dipandang, pasti ada lagi hati yang rusak. Wah, hanya menambah dosa saja!!

Para pakar akhlak pun bertutur bahwa antara mata dan hati ada kaitan eratnya. Bila mata telah rusak dan hancur, maka hatipun akan rusak dan hancur. Hati ini bagaikan tempat sampah yang berisikan segala najis. Kalau kita membiarkan pandangan lepas, berarti kita memasukkan kegelapan di dalam hati. Sebaliknya, bila kita menundukkan pandangan karena Allah berarti kita memasukkan cahaya ke dalamnya.

Allah lagi-lagi mengingatkan, masih pada surah An Nur, di ayat 35, Allah berfirman yang artinya, "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) , yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Bila hati ini telah bersinar, berbagai amal kebaikan akan berdatangan dari berbagai penjuru, untuk dilaksanakan. Jangan sampai kita masih terus melanggar perintah-Nya karena tidak merasa diawasi oleh Allah. Bukankah Allah Maha Mengetahui apa yang kita perbuat? Jadi, kita tinggal memilih, ingin memiliki pandangan yang terjaga atau tidak ? Tentunya, dengan segala konsekuensi yang ada.[Fimadina]

Komentar

 
Embed Widget

x