Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 17 Desember 2017 | 05:27 WIB

Alasan Kenapa Alquran Berbahasa Arab

Oleh : - | Selasa, 23 Mei 2017 | 17:00 WIB
Alasan Kenapa Alquran Berbahasa Arab
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

ADA mahasiswa yang bertanya, mengapa Allah turunkan Alquran dalam bahasa Arab? Bukankah ketika itu banyak bahasa lain?

Tidak salah jika kita awali dengan menelusuri latar belakang pertanyaan ini. Kita bisa menangkap, ada dua kemungkinan latar belakang ketika orang mempertanyakan, mengapa Allah menurunkan Alquran dengan bahasa Arab?

Dua kemungkinan itu bisa jadi terpuji, atau sebaliknya, bisa jadi sangat tercela. Dan itu bukan hal yang aneh. Terkadang ada satu perbuatan yang memiliki nilai berkebalikan, kembali kepada niat pelakunya. Sebagai contoh, mengambil barang temuan.

Jika dia mengambil untuk dikembalikan ke pemiliknya, statusnya al-amin (orang yang amanah). Sehingga ketika barang ini rusak di luar keteledorannya, dia tidak wajib ganti rugi. Sebaliknya, ketika dia mengambil dengan tujuan untuk memilikinya, statusnya al-Ghasib (orang yang merampas). Dia berdosa dan jika barang ini rusak di tangannya, wajib ganti rugi.

Ada dua kemungkinan yang melatarbelakangi pertanyaan ini. Pertama, dalam rangka mempertanyakan dan menggugat, mengapa Allah memilih bahasa Arab untuk Alquran. Apa istimewanya orang Arab, sampai bahasanya digunakan untuk Alquran?

Kedua, dalam rangka menggali hikmah, mengapa Allah memilih bahasa Arab untuk kitab terakhirnya. Sehingga dengan memahami ini, kita akan semakin cinta dengan bahasa Arab yang menjadi bahasa Alquran. Dan tentu saja, ini tujuan mulia. Menggali hikmah yang bisa dijangkau manusia, agar semakin cinta dengan Zat Yang Maha Hikmah.

Menggugat Entitas Bahasa Arab

Bagi sebagian orang yang sentimen dengan semua yang berbau Arab, keberadaan Alquran yang berbahasa Arab, menjadi masalah besar baginya. Bahkan bahasa Arab, dijadikan celah untuk menggugat keautentikan Alquran.

Terutama kelompok liberal yang selalu menjadi masalah di masyarakat. Mereka melakukan upaya yang dikenal dengan desakralisasi Alquran. Propaganda untuk meragukan kesucian Alquran.

Salah satunya, sebuah tesis yang diterbitkan UIN suka 2004, yang berjudul Menggugat Otentisitas (keotentikan) Wahyu Tuhan. Penulis dengan terang-terangan menolak kesucian Alquran.

Di tahun 2011, penulis menerbitkan buku dengan judul,Arah Baru Studi Ulum Al-Quran: Memburu Pesan Tuhan di Balik Fenomena Budaya. Di buku inilah, penulis dengan terang-terangan menegaskan bahwa Alquran yang ada di tangan kaum muslimin, sudah tidak lagi otentik. Alasan utamanya, karena Alquran berbahasa Arab.

Kita bisa simak kutipan pernyataannya, "Wahyu sebagai pesan autentik Tuhan masih memuat keseluruhan pesan Tuhan. Alquran sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab oral memuat kira-kira sekitar 50% pesan Tuhan. Dan Mushaf Usmani sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab tulis hanya memuat kira-kira tiga puluh persen pesan Tuhan. Jika selama menjadi wahyu masih memuat keseluruhan pesan Tuhan, tidak demikian halnya ketika telah menjadi Alquran dan Mushaf Usmani. (hlm.vii).

Dia juga menulisakan,"Ketika pesan Tuhan diwadahkan ke dalam bahasa Arab itu, maka Muhammad sebagai agen tunggal Tuhan yang juga sebagai masyarakat Arab, memilih lafaz dan makna tertentu yang mampu memuat dua pesan, yakni pesan Tuhan dan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab." (hlm. viii)

Dengan membaca sekali, siapapun akan menilai bahwa sejatinya orang ini telah menuduh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berdusta. Karena ada 50% pesan wahyu yang hilang, ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan al-Quran kepada para sahabat.

Padahal Allah telah menegaskan di surat an-Najm,

"Muhammad tidaklah berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Semua itu adalah wahyu yang disampaikan kepadanya." (QS. an-Najm: 3 4)

Mereka juga menuduh sahabat Utsman, yang menyatukan al-Quran dengan bahasa Quraisy. Hingga mereka menganggap bahwa al-Quran adalah alat untuk mewujudkan hegemoni Quraisy bagi dunia. Dalam salah satu jurnal yang diterbitkan IAIN semarang th. 2003, di pengantar redaksinya ditegaskan: "Dan hanya orang yang mensakralkan Quranlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut."

Sebenarnya tidak jauh jika kita menyebut mereka telah mendustakan firman Allah, yang menyatakan bahwa Allah menjaga al-Quran yang Dia turunkan,

"Akulah yang menurunkan Alquran dan Aku sendiri yang akan menjaganya." (QS. al-Hijr: 9).

Dan bagi kita tidak Aneh, ketika pemikiran nyeleneh semacam ini muncul di universitas yang merupakan kantong liberal.

Barangkali akan sangat memeras tenaga jika kita harus mencurahkan banyak pikiran untuk membantahnya. Siapapun anda, bisa membantahnya dengan logika yang sangat sederhana.

Kita semua mengakui, ketika Alquran diturunkan, tentu ada banyak bahasa yang digunakan manusia. Ada bahasa arab, ada bahasa persi, bahasa romawi, di belahan timur ada bahasa cina, dst.

Satu pertanyaan, dengan bahasa yang mana, yang seharusnya digunakan Alquran, agar kitab ini sesuai dengan selera penggemar liberal yang anti bahasa arab?

Berdasarkan prinsip di atas, apapun bahasa yang digunakan Alquran, tidak akan lepas dari kritikan para liberal itu. Karena pada dasarnya, inti dari kritikan itu bukan di bahasanya, tapi karena ini kebenaran. Dan mereka dihadirkan, untuk memerangi kebenaran.

Hikmah Alquran Diturunkan Berbahasa Arab

Selanjutnya kita akan membahas pertanyaan kedua, apa hikmah, Allah menurunkan Alquran berbahasa arab? Berangkat dari sini, kita akan menggali sisi keistimewaan bahasa arab, sehingga Allah memilihnya sebagai bahasa Alquran.

Sebelum melihat sisi keistimewaan bahasa arab, satu hal penting yang perlu kita tanamkan, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu di alam ini dan Allah yang paling berhak untuk memilih siapa diantara makhluknya yang memiliki keunggulan melebihi yang lain. Ada milayaran manusia. Tentu saja, derajat mereka tidak sama. Allah berhak memilih, siapa diantara mereka yang berhak menjadi nabi dan rasul.

Ada ribuan bahasa di alam ini. dan Allah berhak memilih bahasa mana yang paling layak untuk kitab-Nya. Kita yang hanya berposisi sebagai hamba, hanya bisa menerima, dan saja sama sekali tidak berhak mengkritik.

Semacam ini Allah ajarkan dalam firman-Nya,

"Tuhanmu menciptakan apa saja yang Dia kehendaki dan Dia memilih (sesuai yang Dia kehendaki). Mereka tidak bisa menentukan pilihan." (QS. al-Qashas: 68)

Karena itu, alur berfikir yang benar terkait realita al-Quran, bukan bertanya, apa kelebihan bahasa arab, sehingga Allah memilihnya untuk bahasa Alquran. Akan tetapi, cara berfikir yang tepat, bahwa dengan Allah memilih bahasa arab sebagai bahasa Alquran, itu sudah sangat cukup untuk menjadi dasar yang menunjukkan bahasa arab memiliki banyak kelebihan.

Kelebihan Bahasa Arab

Allah menyebut bahasa arab dengan bahasa yang al-Mubin, yang artinya bahasa yang bisa menjelaskan.

Allah berfirman,

"Alquran itu turun dengan bahasa Arab yang mubin." (QS. as-Syuara: 195).

Ibnu Faris (w. 395) salah satu ulama bahasa menyatakan,

"Ketika Allah Taala memilih bahasa Arab untuk menjelaskan (firman-Nya), menunjukkan bahwa bahasa-basaha yang lainnya, kemampuan dan tingkatannya di bawah bahasa arab. (as-Shahibi fi Fiqh al-Lughah, 1/4).

Diantara sisi penunjangnya, bahasa arab merupakan bahasa yang sangat tua dan terjaga. Dan semakin tua sebuah bahasa, akan semakin kaya dengan kosakata, semakin sempurna gramatikalnya dan banyak simbol-simbol makna.

As-Suyuthi memuji kekayaan linguistik dalam bahasa Arab

Ketika kita hendak mengungkapkan kata pedang dengan bahasa persi, kita tidak akan bisa menceritakannya kecuali hanya dengan satu kata. Sementara kita bisa menyebut kata pedang berikut sifat-sifatnya dengan banyak ungkapan dalam bahasa Arab. Demikian pula kata singa dan kuda atau kata lainnya yang memiliki banyak sinonim. Sehingga bagaimana mungkin dua bahasa ini mau dibandingkan?! Bahasa mana yang lebih luas dari pada bahasa arab ?! semua orang yang berilmu mengetahuinya. (al-Mazhar fi Ulum al-Lughah, 1/254).

Syiar Islam dan Kunci Memahami Syariat

Mengingat Alquran berbahasa Arab, hadis berbahasa Arab, khazanah Islam yang menjadi kara para ulama, berbahasa Arab, maka bahasa Arab menjadi kunci untuk memahami itu semua. Karena itulah, para sahabat menekankan agar umat islam berusaha memahami bahasa Arab.

Umar bin Khatab Radhiyallahu anhu pernah berpesan,

"Pelajarilah bahasa arab, karena bahasa ini bagian dari agama kalian." (Idhah al-Waqf, Ibnul Anbari, 1/31)

Umar juga pernah memerintahkan gubernurnya, Abu Musa al-Asyari untuk mengajarkan bahasa arab kepada penduduk Irak,

"Pelajarilah sunah dan pelajarilah bahasa Arab. Pahami Alquran dengan bahasa Arab. Karena kitab ini berbahasa Arab." (Mushannaf Ibn Abi Syaibah, 30534).

Ada jutaan karya ulama yang semuanya berbahasa arab dan belum diterjemahkan. Tidak mungkin anda menunggu terjemahannya untuk bisa anda baca. Bahkan ribuan kitab itu, tidak mungkin diterjemahkan. Karena karya semacam ini, bukan konsumsi mereka yang tidak paham bahasa arab.

Syaikhul Islam menjelaskan,

Allah Taala menurunkan kitabnya berbahasa Arab. Allah menunjuk Rasul-Nya untuk menyampaikan Alquran dan sunah juga berbahasa Arab. Allah juga menunjuk para sahabat yang pertama masuk islam, mereka berbicara dengan bahasa Arab. Sementara tidak ada cara untuk memahami agama ini dengan benar, selain dengan memahami bahasa Arab. Untuk itu, mempelajari bahasa Arab, bagian dari mengamalkan ajaran agama, dan jalan paling dekat untuk menegakkan syiar agama (al-Iqtidha, 1/450).

Tidak Paham Bahasa Arab, Sebab Kesesatan

Ribuan aliran sesat, salah satu sebabnya, mereka menafsirkan Alquran dan sunah, tanpa didukung kaidah bahasa yang benar. Ahmadiyah meyakini adanya nabi palsu, karena mereka memahami kata Khatam an-nabiyin dengan cincin para nabi, dan bukan penghujung para nabi. LDII menilai sesat selain anggota kelompoknya, karena kata muttashil dalam periwayatan hadis, dibawa pada pembelajaran dan dakwah, yang itu tidak pada tempatnya. Mutazilah dan kelompok penerusnya menolak hadis ahad, karena salah paham dengan kata dzan. Dai MTA menghalalkan anjing, tikus, karena menelan istisna mentah-mentah.

Karena itu, benarlah apa yang disampaikan Imam Ayub as-Sikhtiyani ulama tabiin (w. 131 H),

"Umumnya orang yang menyimpang mengikuti aliran sesat di kalangan penduduk Irak, karena mereka tidak paham bahasa arab." (Khutbah al-Kitab, Abu Syamah, hlm. 63).

Keterangan lain disampaikan Imam Ibnu Syihab az-Zuhri ulama tabiin, muridnya Abu Hurairah ,

Banyak masyarakat yang salah dalam mentakwilkan Alquran, sebabnya adalah karena mereka tidak paham bahasa Arab. (Khutbah al-Kitab, Abu Syamah, hlm. 63).

Hasan al-Bashri ulama tabiin ,

Mereka sesat karena bahasa selain arab. Mereka mentakwil Alquran, tidak sesuai takwil yang benar. (Syarh Mukhtashar ar-Raudhah, at-Thufi). [konsultasisyariah]

Komentar

 
Embed Widget

x