Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Oktober 2017 | 19:57 WIB

Mengapa Bersedih dan Apa Solusinya?

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Minggu, 14 Mei 2017 | 00:13 WIB
Mengapa Bersedih dan Apa Solusinya?
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

PERTANYAAN mengapa kebanyakan manusia itu gelisah telah banyak menyita perhatian. Ada banyak jawaban atas satu pertanyaan ini, mulai dari melimpahkan sebab kepada alam lingkungan yang tidak bersahabat sampai pada kondisi hati yang tersandera oleh keinginan nafsu diri.

Dari sekian banyak jawaban, saya tertarik mengutip pandangan sarjana yang, kalau tidak salah, namanya adalah Albert Camus: "Manusia adalah satu-satunya hewan yang tak pernah ridla akan dirinya sendiri."

Sepertinya kata-kata di atas memang banyak benarnya. Begitu banyak manusia yang mengeluhkan apa yang ada dan mengelu-elukan, mencari dan mengejar yang tak ada. Orang kulit putih berlomba mencoklatkan warna kulit sampai rela berjemur di bawah terik matahari.

Yang berkulit coklat kehitaman berlomba untuk memutihkan kulit dengan bermacam cara. Bedak khusus dan kosmetika mahalpun dibeli demi menghilangkan keluhan tentang kulit. Hewan selain manusia tak ada yang bingung dengan warna kulitnya, mereka menerima takdir kulit masing-masing.

Bukan hanya masalah kulit, masalah pekerjaanpun demikian. Betapa banyak orang yang ingin mengambil alih semua pekerjaan orang lain. Tak puas dengan satu usaha dan tak puas dengan satu keahlian. Lihatlah sapi yang tak pernah mau mengambil alih pekerjaan binatang lain. Lihat pula burung yang terus bersiul senang dalam sangkar atau di dahan walau tak bernasib dimanja bagai dimanjanya kucing piaraan. Mereka menerima takdir, sementara kebanyakan kita memprotes melawan takdir.

Tak usah mengeluh tak kebagian jabatan. Tak usah marah tak mendapatkan tunjangan. Kalau menjadi hak dan rizki kita, pastilah akan sampai kepada kita walau menurut banyak orang kita tak mungkin atau tak layak mendapatkannya. Syukuri saja takdir yang ada.

Bagi yang senantiasa mengeluh dan bersedih atas keadaan diri, sempatkan merenungkan kalimat pujangga berikut ini: "Naik ke puncak gunung menjadi cara efektif untuk melihat pemandangan di bawah sebagai sesuatu yang indah."

Dalam bahasa agama, naiklah ke langit dengan shalat, dzikir dan doa, maka takdir hidup akan tampak indah, bisa dijalani dengan mudah dengan langkah menuju masa depan yang terarah. Salam, AIM@Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

Komentar

 
Embed Widget

x