Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 24 Juni 2017 | 00:05 WIB

Benarkah Rasulullah Berpuasa Saat Bulan Syaban?

Oleh : - | Selasa, 9 Mei 2017 | 07:00 WIB
Benarkah Rasulullah Berpuasa Saat Bulan Syaban?
Bulan Sya'ban - (Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

DALAM beberapa hadis disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam suka berpuasa sunah pada bulan Syaban melebihi dari bulan-bulan yang lain. Tidak diragukan bahwa dalam hal ini terdapat hikmah yang banyak. Berikut ini adalah hikmah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa di bulan Syaban.

Pertama: Syaban adalah bulan yang dilupakan manusia mengingat tempatnya yang terletak antara Rajab dan Ramadan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengisyaratkan bahwa ketika ada dua bulan agung, yaitu bulan haram (Rajab) dan bulan puasa (Ramadan), maka manusia biasanya sibuk dengan keduanya sehingga bulan Syaban menjadi terabaikan. Banyak orang menyangka bahwa puasa Rajab lebih utama daripada puasa Syaban karena Rajab itu bulan haram, padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Ibnu Wahb meriwayatkan, "Muawiyah bin Shalih menyampaikan kepada kami, dari Azhar bin Saad, dari ayahnya, dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia menuturkan, "Disebutkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa orang-orang berpuasa pada bulan Rajab, maka beliau bertanya, "Di mana mereka dari bulan Syaban?" (HR. Abdurrazzaq)[1]

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Orang-orang tersibukkan darinya, yaitu bulan yang ada antara Rajab dan Ramadhan", terdapat isyarat bahwa adanya sesuatu yang sudah populer keutamaannya, berupa waktu, tempat, atau pribadi seseorang, bisa jadi sebagiannya lebih utama daripada sebagian yang lain, baik secara mutlak maupun keistimewaan yang ada padanya, dan hal tersebut tidak dipahami oleh kebanyakan orang. Akibatnya, mereka menyibukkan diri dengan sesuatu yang sudah populer tersebut dan kehilangan kesempatan mendapatkan keutamaan sesuatu yang tidak populer di kalangan mereka.

Dalam hadits tersebut juga terdapat dalil dianjurkannya meramaikan waktu ketika manusia lalai dalam mengerjakan ketaatan padanya; karena hal tersebut dicintai Allah Taala. Sebagaimana segolongan ulama salafus-shalih memandang baik menghidupkan waktu antara Maghrib dan Isya dengan shalat sunnah. Mereka mengatakan, "Ini adalah saatnya orang-orang sedang lalai." Begitu pula keutamaan shalat pada tengah malam, mengingat banyak orang yang lalai dan lupa untuk berdzikir kepada Allah pada waktu itu. Padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Jika kamu mampu menjadi termasuk orang-orang yang mengingat Allah pada saat itu, maka lakukanlah."

Atas dasar inilah, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkeinginan untuk menunda melaksanakan salat Isya hingga tengah malam, tetapi hal tersebut tidak beliau lakukan karena khawatir hal tersebut dapat memberatkan manusia. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar, sedangkan para shahabat sedang menanti beliau untuk shalat Isya, beliau bersabda,

"Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menunggu salat ini selain kalian." (Muttafaq Alaih)[2]

Di sini terdapat dalil tentang keutamaan menyendiri dalam berzikir kepada Allah pada waktu-waktu tidak adanya orang berzikir ketika itu. Karena itulah dalam hal keutamaan zikir di pasar-pasar telah diriwayatkan hadis-hadis marfu serta atsar mauquf, sampai-sampai Abu Shalih mengatakan, "Sesungguhnya Allah Taala tersenyum kepada orang yang mengingat-Nya di pasar." Alasannya, karena orang tersebut berzikir dan mengingat Allah Taala pada saat banyak manusia yang lalai.

Kedua: makna yang lain dalam hal puasa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada bulan Syaban adalah bahwasanya pada saat itu ajal segala sesuatu dituliskan.

Diriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia menuturkan, "Puasa sunnah terbanyak yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah pada bulan Syaban, maka aku berkata, "Wahai Rasulullah, saya melihat engkau banyak puasa sunah pada bulan Syaban." Beliau bersabda, "Sesungguhnya pada bulan ini, dituliskan bagi malaikat maut siapa saja yang harus ia cabut nyawanya. Dan aku tidak ingin dicatat namaku (termasuk salah satu dari orang yang meninggal dunia), melainkan aku dalam keadaan puasa."[3]

Hadis ini diriwayatkan pula secara mursal dan ada pula yang mengatakan, "Riwayat yang mursal ini lebih shahih." Dalam hadits lain yang juga mursal disebutkan, "Ajal-ajal itu ditetapkan dari bulan Syaban ke Syaban berikutnya, sampai-sampai seseorang melangsungkan akad nikah kemudian mendapatkan anak, tetapi namanya telah ditetapkan sebagai orang-orang yang akan mati."

Dalam hal ini juga diriwayatkan makna lain, yaitu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa tiga hari setiap bulan, terkadang beliau tunda pelaksanaannya hingga datang bulan Syaban. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abi Laila, dari saudaranya, Isa bin Abi Laila, dari ayah mereka, dari Aisyah Radhiyallahu Anha. Diriwayatkan pula oleh yang lain dengan menambahkan, "Aisyah berkata, "Terkadang aku ingin puasa, tetapi aku tidak mampu hingga jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa, maka aku ikut puasa bersama beliau." (HR. Ath-Thabrani)[4]

Meskipun demikian, seolah-olah hal ini bertentangan dengan riwayat dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia menuturkan, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa tiga hari dari setiap bulan, tanpa menghiraukan pada hari apakah itu." (HR. Muslim)[5]

Dalam riwayat lain dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia mengatakan, "Aku tidak pernah mengetahui beliau yakni Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berpuasa sebulan penuh selain Ramadan dan aku tidak pernah melihat beliau berbuka sebulan penuh, kecuali beliau berpuasa pada sebagian harinya hingga beliau wafat." (HR. Muslim)[6]

Dua riwayat ini bisa saja digabung, yakni puasa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada sebagian bulan, tidak sampai tiga hari sehingga beliau sempurnakan apa yang beliau lewatkan dari setiap bulan itu pada bulan Syaban. Atau karena beliau puasa tiga hari pada setiap bulan dan ditambah puasa Senin dan Kamis. Bagaimanapun juga, amal ibadah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah amalan yang kontinu[7]. Jika terlewatkan sesuatu dari amalan sunnah, maka beliau menggantinya (qadha`) pada waktu yang lain sebagaimana beliau mengganti shalat sunnah yang terlewatkan atau shalat malam, dengan melakukannya pada siang hari.

Jika telah datang bulan Syaban, sementara masih ada beberapa puasa sunnah yang belum beliau laksanakan, maka beliau menggantinya pada bulan Syaban hingga genaplah hitungan puasa sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum masuk bulan Ramadhan.

Siapa saja yang memiliki hutang puasa Ramadhan, maka wajib baginya mengganti puasa tersebut setelah Ramadan berakhir jika ia mampu, tidak boleh menundanya hingga Ramadan berikutnya tanpa ada alasan darurat.

Jika ia lakukan itu, yakni menunda pembayaran hutang puasa karena adanya udzur yang terus-menerus di antara satu Ramadan ke Ramadan berikutnya, maka ia harus menggantinya setelah Ramadan kedua, tidak ada kewajiban lain selain qadha`.

Di samping hal yang telah disebutkan di atas, ada hikmah lain dari puasa pada bulan Syaban, yaitu sebagai latihan untuk menghadapi puasa Ramadan agar seseorang tidak merasakan kesulitan dan keberatan dalam melaksanakan puasa Ramadan, karena telah terlatih untuk berpuasa. Seseorang yang berpuasa pada bulan Syaban sebelum Ramadan akan mendapatkan kelezatan puasa sehingga ia menghadapi puasa Ramadan dengan kuat dan penuh semangat.

Mengingat Syaban sebagai langkah awal untuk menghadapi bulan Ramadan, disyariatkan pada bulan ini, apa yang disyariatkan pada bulan Ramadan, mulai dari puasa dan membaca Alquran agar jiwa benar-benar merasa siap dalam menghadapi Ramadan, terbiasa dan terlatih untuk melakukan ketaatan kepada Allah dengan ibadah pada bulan Syaban.

Salamah bin Kuhail mengatakan, "Dulu dikatakan bahwa Syaban itu adalah bulan para qurra` (pembaca Alquran)." Diriwayatkan bahwa apabila Amr bin Qais Al-Mula`i memasuki bulan Syaban, ia menutup pintu warungnya untuk totalitas dalam membaca Alquran.

Wahai orang yang menyia-nyiakan waktu yang mulia dan membuangnya percuma, dan mengisinya dengan amalan-amalan buruk, amat buruklah apa yang ia lakukan.[Fimadani]

[1] HR. Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf (7858), hadits mursal dari Zaid bin Aslam.

[2] Muttafaq Alaih. HR. Al-Bukhari (570) Kitab: Mawaqit Ash-Shalah, Bab: An-Naumu Qabla Al-Isya liman Ghuliba; HR. Muslim (639) Kitab: Al-Masajid, Bab: Waqtu Al-Isya` wa Ta`khiruha.

[3] HR. Abu Yala ( 4911).

[4] Dalam sanadnya terdapat perawi yang diperbincangkan. HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (2098). Al-Haitsami mengatakan dalam Majma Az-Zawa`id (3/192), "Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Abi Laila, ia adalah perawi yang diperbincangkan."

[5] Hadits shahih; HR. Muslim (1160) kitab Ash-Shiyam, Bab: IstihBab:i Shiyami Tsalatsata Ayyam min Kulli Syahrin.

[6] Hadits shahih; HR. Muslim (1156), kitab Ash-Shiyam, Bab: Shiyamu An-Nabi fi Ghairi Ramadhan.

[7] Ad-Daimah secara bahasa diartikan dengan hujan terus turun dalam keadaan tenang. Di sini Aisyah Radhiyallahu Anha menyerupakan amal ibadah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam kesinambungan dan kesederhanaan dengan hujan yang terus turun dengan tenang.

 
x