Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 23 September 2017 | 14:34 WIB

Kisah Sahabat Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi

Memaknai Mimpi yang Menjadi Kenyataan

Oleh : - | Sabtu, 6 Mei 2017 | 15:00 WIB
Memaknai Mimpi yang Menjadi Kenyataan
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

SETELAH khilafah berpindah ke tangan Abu Bakar, ath-Thufail memberikan jiwanya, pedangnya dan anaknya dalam menaati khalifah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ketika perang Riddah berkecamuk ath-Thufail berada di barisan depan bala tentara kaum muslimin untuk memerangi Musailamah al-Kadzdzab, putranya pun ikut bersamanya. Ketika dia sedang menuju Yamamah, ath-Thufail bermimpi, dia berkata kepada kawan-kawannya, "Aku bermimpi, tolong jelaskan kepadaku apa artinya?"

Mereka bertanya, "Mimpi apa?" Dia berkata, "Aku bermimpi kepalaku dicukur, seekor burung keluar dari mulutku, seorang wanita memasukkanku ke dalam perutnya, anakku Amru mencari-cari diriku dengan gigih namun antara diriku dengan dirinya terdapat penghalang." Mereka berkata, "Itu mimpi yang baik."

Selanjutnya ath-Thufail berkata, "Aku sudah bisa mengartikan makna mimpiku. Kepalaku dicukur, artinya ia dipotong. Seekor burung keluar dari mulutku, artinya arwahku meninggalkan jasadku. Wanita yang memasukkanku ke dalam perutnya adalah bumi yang digali lalu aku dikubur di sana. Anakku yang gigih mencariku, artinya dia mengharapkah syahadah yang akan aku dapatkan dengan izin Allah, anakku akan mendapatkannya kelak."

Di perang Yamamah, shahabat yang mulia Amru bin ath-Thufail ad-Dausi berperang dengan gigih, memperlihatkan kepahlawanannya dengan gagah berani, sampai dia gugur sebagai syahid di bumi perang Yamamah. Adapun anaknya, Amru, maka dia terus berperang sampai tubuhnya penuh luka, tangan kananya terpotong, dia pulang ke Madinah meninggalkan bapaknya sementara tangan kanannya dikubur di bumi Yamamah.

[baca lanjutan: Kisah Sahabat Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi: Sebagian Organ Tubuh yang telah Tinggal di Surga]

 
Embed Widget

x