Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 17 Desember 2017 | 05:28 WIB

Serba-Serbi Dunia Jin

Meluruskan Makna Perintah Beriman kepada yang Gaib

Oleh : - | Kamis, 4 Mei 2017 | 06:00 WIB
Meluruskan Makna Perintah Beriman kepada yang Gaib
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

INDONESIA adalah merupakan negeri muslim terbesar di dunia. Banyaknya penduduk muslim, tidak sebanding dengan keberadaan ulama yang mampu menjelaskan masalah keagamaan yang dihadapi mereka. Di antaranya adalah masalah aqidah yang belum mendapatkan penjelasan secara wadhih (terang) adalah tentang dunia ghaib. Masalah ini sering dipersepsikan secara dramatis oleh orang Indonesia, selain memang umumnya orang Indonesia cukup akrab dengan dunia klenik, sehingga persepsi mereka terhadap alam ghaib didasarkan oleh hal-hal yang bersifat tahayul, khurafat, dan mitos.

Sebenarnya tema pembicaraan alam ghaib amat luas cakupannya, seperti keimanan kepada Allah, Malaikat, kiamat, akhirat, yaumul baats (hari kebangkitan), surga dan neraka, shirath (jembatan), ruyatullah, dan lainnya. Tetapi di negeri kita ini, jika disebut alam ghaib, persepsi pertama masyarakat kita adalah dunia jin (Alamul Jin). Masih bagus jika pemahaman tentang itu dibangun dalam koridor wahyu dan akal yang bersih, tetapi kenyataannya mereka diombang-ambing oleh keyakinan nenek moyang yang keliru, bahkan campuran dari ajaran agama lain.

Tugas pokok kita terhadap perkara ghaib adalah mengimaninya. Tetapi, banyak manusia telah melampaui batasan ini. Mereka menyikapi masalah ghaib seperti sebuah kajian empiris yang diselimuti berbagai misteri yang menyelimutinya. Bukan itu tugas kita. Allah Taala berfirman tentang ciri-ciri orang bertaqwa: "Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (QS. Al Baqarah (2): 1-3)

Pengetahuan manusia terhadap dunia ini amatlah sedikit, maka sikap mendramatisir alam ghaib, seperti yang digambarkan dalam film, komik, cerita masyarakat, hikayat, dan lainnya, adalah perilaku lancang namun menggelikan. Allah Taala berfirman: "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia." (QS. Al Araf (7): 187)

Seorang muslim hendaknya bersikap dan berkeyakinan sebagaimana catatan Alquran dan As Sunnah Ash Shahihah. Dia berjalan dan berhenti bersama keduanya, menetapkan apa yang ditetapkan keduanya, dan mengingkari apa yang diingkari keduanya pula. Menahan diri untuk merekayasa dan mengarang-ngarang cerita alam ghaib yang tidak berdasar. Dia diam apa yang didiamkan, dan dia bicara apa yang dibicarakan oleh keduanya. Hal ini bukan hanya dalam perkara ghaib, tetapi juga yang lainnya.

Disinilah letak pentingnya materi ini, yaitu mencoba mengimani masalah jin sesuai bimbingan syariat yang suci. Kami akan bahas secara global dan menyeluruh, walau dalam beberapa hal kami harus merincinya. Paling tidak ini adalah pengantar bagi seorang muslim untuk mencoba mengimani masalah ghaib berdasarkan ilmu yang benar.

[baca lanjutan: Kenapa Wujud Setan di Indonesia Beda dengan Amerika?]

Komentar

 
Embed Widget

x