Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Oktober 2017 | 20:06 WIB

Ternyata Panitia Zakat Bukanlah Amil Zakat

Oleh : - | Sabtu, 29 April 2017 | 17:00 WIB
Ternyata Panitia Zakat Bukanlah Amil Zakat
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

MENGENAI posisi amil sebagai penerima zakat, telah Allah sebutkan di surat at-Taubah ayat 60, "Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk sabilillah dan Ibnu Sabil." (QS. at-Taubah: 60). Hanya saja kita perlu memperhatikan, tidak semua orang yang mengurusi zakat bisa disebut amil. Terkadang seorang pengurus zakat hanya bisa disebut wakil.

An-Nawawi pernah menyebutkan, "Imam Syafii dan para ulama Syafiiyah rahimahumullah mengatakan, Jika yang membagi zakat adalah muzakki sendiri atau wakilnya, maka jatah amil menjadi gugur, dan wajib diserahkan ke 7 golongan penerima zakat lainnya." (al-Majmu, 6/185).

An-Nawawi menyebutkan bahwa zakat adakalanya dikelola amil, muzakki sendiri, atau wakilnya. Berarti pengurus zakat selain muzakki, tidak hanya amil, termasuk juga wakil. Kepentingan kita dengan hal ini, kita hendak menyimpulkan bahwa untuk bisa disebut amil, pengurus zakat harus memiliki kriteria tertentu. Diantara kriteria itu, amil zakat adalah pengurus zakat yang ditugakan oleh pemerintah. Ada banyak penegasan yang disampaikan ulama mengenai hal ini, diantaranya,

[1] Keterangan as-Syaukani penulis Nailul Authar , Ketika beliau menjelaskan seputar amil, beliau mengatakan, "Para Amil zakat adalah petugas zakat yang diutus oleh imam (pemerintah) untuk menarik zakat. Mereka berhak mendapatkan jatah." (Fathul Qadir, 2/541).

[2] Keterangan Imam Ibnu Baz, "Para amil zakat adalah para petugas yang ditunjuk pemerintah untuk mengaudit harta zakat dan melakukan perjalanan menuju berbagai daerah, kabilah-kabilah yang di sana ada pemilik harta, lalu diambil harta zakat dari mereka para amil itu diberi zakat sesuai kerjanya dan usahanya berdasarkan penilaian pemerintah." (Majmu Fatawa Ibnu Baz, 14/14).

[3] Keterangan Imam Ibnu Utsaimin, "Dialog dengan Imam Ibnu Utsaimin dengan muridnya,
Penanya: Apakah amil di yayasan berhak mendapatkan zakat?
Jawaban Ibnu Utsaimin, "Disebut amil apabila dia ditunjuk oleh negara."
Penanya: Jika dia dari yayasan, menghitung zakat gaji rutin mereka, apakah tidak cukup?
Jawaban Ibnu Utsaimin, "Tidak mungkin kecuali ditunjuk negara. Karena amil adalah mereka yang ditunjuk dari negara, dari pemerintah." (Liqaat Bab al-Maftuh, 13/141).

Di kesempatan yang lain, beliau menjelaskan perbedaan antara wakil dan amil. Beliau mengatakan, "Para amil zakat" mereka adalah orang yang ditunjuk imam pemerintah untuk menarik zakat dan membagikannya kepada mustahiq zakat. Mereka amil atas harta zakat, artinya mereka punya wewenang terhadap harta zakat. Sementara wakil untuk orang yang memiliki harta, misalnya orang kaya ini mengatakan kepada kawannya, Wahai fulan, tolong ambil zakatku dan tolong bagikan kepada orang miskin.. maka yang semacam ini bukan amil. Karena ini statusnya hanya wakil, yang mengurusi zakat dan tidak memiliki wewenang terhadap harta zakat." [Fatawa Nur ala ad-Darb, 29/206]

Komentar

 
Embed Widget

x