Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 23 September 2017 | 14:38 WIB

Perhatikan! Kiat Mendidik Anak Ikuti Lima Hal Ini

Oleh : - | Selasa, 25 April 2017 | 10:00 WIB
Perhatikan! Kiat Mendidik Anak Ikuti Lima Hal Ini
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

SEMUA orangtua ingin menyenangkan anaknya sebisa mungkin. Hari ini si kecil bisa dapat sepeda, besok dapat hadiah kue tart, lusa dapat permen, es krim dan diajak senang-senang di pantai. Tapi keinginan menyenangkan si kecil itu seringkali melampaui porsi pendidikan jiwa anak yang seharusnya dan akibatnya justru fatal. Islam mengajarkan keseimbangan dan keadilan. Menyayangi anak adalah sebuah keharusan namun porsinya pantang berlebih, pantang berkekurangan.

Berikut lima kesalahan klasik orangtua dalam mendidik anak:

1. Lebih mementingkan kebutuhan jasmani daripada ruhani atau akhlak.

Tubuh anak memerlukan nutrisi untuk perkembangannya namun jiwanya butuh pendidikan dan teladan dalam membentuk karakternya. Ketika seorang ayah membelikan pakaian atau hadiah mainan, hendaknya seorang ibu mengajarkan rasa bersyukur dan terima kasih. "Bilang terima kasih sama ayahmu, nak!"

2. Menghardik anak dengan kata-kata kasar.

Kata-kata kasar atau buruk yang dialamatkan orangtua kepada anak akan membekas dan membentuk pribadi buruk sang anak. Sebaliknya kata-kata baik dan pujian yang indah akan membentuk anak sebagaimana kata-kata yang diucapkan. Ketika anak tidak bisa melakukan suatu hal, jangan sekali-kali mengatakan, "Bodoh kamu!" Lebih baik katakan, "Insya Allah kamu bisa, berusaha lagi, nak."

3. Menumbuhkan rasa takut pada anak.

Dengan dalih anak supaya penurut atau agar anak berhenti dari tangisnya, orangtua kerap menakuti anaknya dengan hantu, setan, orang gila dan sebagainya. Ini pantang. Sebaiknya orangtua mencari cara kreatif membujuk anak. Misalnya adalah via cerita kepribadian dan keberanian orang-orang mulia.

4. Selalu memenuhi permintaan anak.

Sebuah kesalahan besar jika orangtua selalu memenuhi permintaan si kecil. Kebiasaan ini bakal menjadikan si kecil belajar menjadikan orang tuanya laiknya mesin ATM. Orangtua juga perlu menimbang baik dan buruk apa yang anak minta. Sekali tempo anak juga perlu tahu jika dompet orangtua lagi cekak di akhir bulan. "Sekarang ayah tidak punya uang, nak. Tunggu lepas ayah gajian yah!"

5. Terlalu keras dan kaku dalam mendidik anak.

Orangtua bukanlah pemimpin militer dalam sebuah kesatuan sehingga tidak boleh ada pembangkangan anak buah. Orangtua adalah pemimpin kafilah perjalanan panjang kehidupan. Terkadang harus keras agar anggota pasukan tetap dalam barisan namun tak jarang harus menghibur di saat kelelahan. Menjadi orangtua berwibawa ketika anak mengadukan permasalahan namun perlu juga menjadi kawan seusianya ketika anak berkeluh kesah tentang permasalahannya. [islamindonesia]

 
Embed Widget

x