Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Agustus 2017 | 01:03 WIB

Kamu Bersedekah pada Pengemis yang Sehat?

Oleh : - | Sabtu, 1 April 2017 | 07:00 WIB
Kamu Bersedekah pada Pengemis yang Sehat?
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

MEMANG pertanyaan ini seringkali menggelitik perasaan kita dan seringkali menggiring kita terjebak ke dalam masalah yang dilematis. Di satu sisi, kita ingin memberi sedekah dan membantu fakir miskin yang barangkali nasibnya kurang beruntung. Namun di sisi lain, kita sering kali dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak dari para pengemis itu yang sebenarnya merupakan sindikat yang teroganisir. Pendeknya, mereka sebenarnya bukan orang yang tepat untuk diberi bantuan.

Namun ada juga yang mengkritik bahwa biar bagaimana pun kita tidak boleh menolak orang yang meminta-minta. Apalagi mengingat kita juga belum tahu persis, apakah si peminta-minta itu memang orang yang berhak ataukah semata-mata penipu. Akan halnya larangan untuk menolak orang yang meminta, sebagian kalangan berhujjah dengan firman Allah Ta'ala berikut ini: "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (QS. Adz-Dzariyat: 19)

Di dalam ayat ini secara tegas Allah Ta'ala menyebutkan bahwa orang yang miskin meminta-minta memang punya hak dari sebagian harta kita. Dan para pengemis itu adalah orang yang meminta-minta. Apakah mereka menipu atau tidak, kita tidak bisa pastikan secara langsung saat itu juga. Oleh karena itu, sebagain kalangan memberikan solusi jalan tengah. Kepada para peminta-minta, kita dianjurkan untuk tidak menyia-nyiakan begitu saja. Kita berikan tetapi ala kadarnya. Sekedar untuk menggugurkan kewajiban dan tidak melanggar ayat Allah Ta'ala.

Apalagi kita juga mengetahui bahwa Allah Ta'ala melarang kita untuk menghardik orang yang meminta-minta. "Adapun orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya." (QS. Adh-Dhuha': 10)

Namun yang lebih baik adalah menyalurkan sebagain besar sedekah, infaq dan termasuk zakat kita lewat lembaga amil yang amanah, bertanggung-jawab, resmi dan formal. Sebab lembaga-lembaga seperti ini memang didirikan secara profesional demi sampainya niat kita. Ke sanalah dana infaq kita salurkan. Adapun kepada para peminta-minta, berilah sekedarnya saja. Bahwa ada yang mensinyalir bahwa sebagian dari mereka adalah jaringan para penipu, setidaknya kita tidak bisa disalahkan begitu saja. Namun memang perlu bila sindikat para peminta-minta itu diungkap ke publik. Agar mereka yang memang bukan berhak atas dana infaq tidak menjadi sia-sia.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc]

 
Embed Widget

x